Featured post

Wednesday, 29 April 2026

The Piccolo Project - Part-1

 Once my friend said long time ago, " If you want to compare coffee shop, you can order Piccolo"

Apa sih piccolo? dalam bahasa Italia artinya kecil atau mungil. Dan piccolo latte adalah minuman kopi susu berbasis single shot espresso yang disajikan dalam gelas kecil berukuran 85-114 ml, memberikan rasa kopi yang intens namun lembut.

Dan memang sejak tahu itu gue jadi selalu memesan piccolo. Karena selain rasa kopinya cukup intens, tapi masih ada susunya yang bikin rasanya menjadi menyenangkan karena disajikan dalam gelas yang kecil dan memberikan rasa manis meskipun tanpa gula. Jadi biasanya kalau gue lagi pengen kopi tapi yang ga terlalu simple kaya ice americano atau yang terlalu manis kaya kopsus gula aren, piccolo akan hadir. Gue bahkan pernah bikin satu cerpen yang berjudul piccolo, sedalem itu. 

Itu akhirnya yang bikin gue akhirnya memutuskan untuk bikin piccolo project dalam rangka menyambut usia setengah abad ini. Selain mengumpulkan cerpen yang gue tulis sendiri sebanyak 50 cerita. Gue akan minum 50 piccolo di 50 tempat yang berbeda. Dan ternyata perjalan piccolo ini menjadi menyenangkan. Karena gue akhirnya tahu bahwa tidak semua coffee shop menyajikan menu piccolo karena harus menggunakan gelas khusus dan yang paling penting rasa piccolo di setiap kedai kopi adalah berbeda. Dan gue akhirnya bisa menyimpulkan piccolo seperti apa yang gue suka. 

Dan gue akan bercerita 10 piccolo pertama gue dalam rangka mengumpulkan 50 piccolo sebelum tanggal 27 April 2027. Dan perjalanan ini dimulai di bulan Agustus 2025.


1. The Goods Dept PIM 2


Disini gue menikmati piccolo pertama gue bersama anak pertama gue. Waktu itu gue inget, kita habis makan sushi yang selalu ramai di weekend. Bulan Agustus 2025, gue dan anak gue sedang dalam kondisi baru selesai dari satu pekerjaan yang mengikat jadi ini mungkin semacam perayaan buat kita berdua. Rasa piccolo di sini tidak terlalu strong tapi salah satu gelas piccolo dengan latte art tercantik.

2. Joe and Dough Bridge PIM 3

Piccolo kedua dinikmati bersama dua orang sahabat dan salah satu yang sudah lama tidak bertemu. Seru, berjam-jam ngobrol dan cerita-cerita berbagai hal karena sudah lama ga ketemu. Dan ini adalah salah satu piccolo terenak yang pernah gue coba dan gue inget. Kaya semuanya pas aja. 

3. Levant Boulangerie Cipete

Piccolo ketiga bersama sahabat2 re. Pulang latihan angklung, habis makan siang di IBC ngerayaib ultah bulan April dan May, dan berakhirlah kita dengan ngopi di sini. Tapi ternyata rasa piccolo ga terlalu seperti yang gue pengen. Cuma, pizza over the laughter was the best!

4. Toho - Citos

Salah satu picolo yang dinikmati sendirian. Lupa karena apa, kayanya karena gue perlu beli sesuatu di Matahari. Dan berakhir dengan ngopi dan makan siang di resto ini. Penasaran karena resto adalah gabungan antara Kopi Tuku dan Toodz cafe. piccolo is good, mie ayam yang gue pesen juga enak. Cuma es teh tawarnya terasa agak basi, dan gue sempet ngomong sebelum pulang karena khawatir mereka akan menyajikan teh yang sama ke pengunjung lain, informasi yang gue sampaikan sambil lalu malah diapresiasi dengan pistachio gelato yang enak dari pihak restonya. Thanks a lot, man.

5. N.O.B kemang

Perjalanan ke Kemang bersama tetangga sekaligus sahabat adalah dalam rangka mengunjungi pameran lukisan dari salah seorang teman. Sebelumnya kita makan ayam goreng favoritnya Nicholas Saputra dulu di Cipete. Yang meskipun porsinya kecil tapi enakkkk. Dan setelah melihat pameran lukisan yang keren banget, yah karena gue ga bisa gambar, kita cus buat ngopi. Yang gue ingat coffee shopnya ada di Kemang Timur, jadi coffee shop berada di satu area yang isinya beberapa toko seperti yang banyak kita temui di Bandung,  seperti creative2 space gitu. Seru banget karena ada farm di tengah kota dan layout coffee shopnya juga yang blong aja gitu cuma berasa kaya di Lembang karena sangat hijau. Pulangnya agak gerimis kita akhirnya pinjam payung untuk ke mobil yang letaknya agak jauh. Dan sempet2nya difotoin sama mba kopinya. Ma kasih yah....

6. Kenangan Boulangerie Sency

Kalau ini tiba2 menemukan piccolo secara ga sengaja. Waktu itu gue lagi mau lihat pameran sendirian. JICAF atau yah pameran art illustration gitulah yang lokasinya di Sency. Dan pas menuju ke venuenya gue ngelewatin si Kenangan Boulangerie ini, jadi kan penasaran. Ini kaya kedai kopi kenangan versi mewahnya gitulah. Dan bener menu kopinya juga lengkap termasuk si piccolo ini. Rasanya gimana? Kalau rasanya sih yang ga terlalu strong dan bukan termasuk jenis piccolo yang gue cari sih. 

7. Smiljan Cipete

Nah ini juga salah satu piccolo terenak. Gue suka. Tentang cafenya, waktu itu gue janjian sama temen gue yang book buddies alias kita ketemuan itu kalau masing2 dari kita sudah nyelesain baca buku yang kita tukeran dan kali ini kita ketemunya di Smiljan Cafe. Smiljan ini sebenarnya ada di beberapa tempat tapi gue belum pernah sama sekali ngopi di sana. Karena ada di Matraman kejauhan, di Blok M tempatnya terlalu kecil dan penuh, di Bintaro nah kaya ga menarik aja daerahnya karena gue penasaran banget, dia itu kedai kopi yang juga perpustakaan jadi kita bisa baca buku yang ada di sana sambil ngopi. Gitu. Nah, begitu mereka buka di Cipete dan lokasinya ga gitu jauh dari MRT yah, cuslah, meskipun gue ga naik MRT juga, tapi kaya masih managable aja lokasinya. Kecuali parkirannya yang cuma muat dua mobil dan nanjak dan elo harus parkir mundur. But, overall experiencenya oke banget, mereka punya outdoor yang hijau dan yang penting mushollanya nyaman. Yah kan?


8. Makmur Jaya Bandung

Nah perjalanan kali ini menjauh sejenak dari Jakarta. Begitu sampai tentu saja gue langsung mampir ke Makjay sebagai tujuan utama dan mandatory. Tapi kali instead kopsus gula aren yang selalu terngiang2 di otak, gue order piccolo. Dan tampaknya gue terlalu high expectation dengan si piccolo ini, karena kopsusnya enak dan kopi hitamnya juga enak, but mungkin piccolonya bukan selera gue aja sih. Cuma, chicken mushroom trufflenya sih tetap the best sih....Jadi rindu...

9. Bumi Meloka Ciwidey

Kali ini lebih menjauh lagi dari kota Bandung. Kita mampir di Bumi Meloka di Ciwidey setelah satu malah girls's trip sama mama, teteh dan adik ipar dalam rangka ngerayain ultah mama. Seru kan? ga nyakngka ada coffee shop serius di daerah ciwidey gini. Dan enak lho piccolonya. Suasananya udah pasti bikin beda karena masih kerasa dingin2nya hawa di Ciwidey. 

10. Sakara Kopi Bali Panglima Polim


Nah, untuk piccolo kesepuluh ini juga sebenernya ga direncanakan. Waktu itu gue pulang recording podcast dan niatnya mau cari sepatu buat jalan2, dan memang ada sepatu yang sdh lama ada di wishlist gue. Ternyata oh ternyata pas di sebelah toko sepatunya ada sih Sakara kopi ini, dan kebetulan banget mereka baru aja pindah ke sini. Dulu gue udah pernah sih mampir waktu mereka masih store kecil di depan Sarinah Thamrin, tapi dulu cuma beli kopsusnya aja. Dan sekarang gue coba piccolo. Udah tau dong pasti enak!

Gitu deh, perjalanan gue dengan sepuluh piccolo pertama di tahun 2025, nanti kita lanjut lagi dengan sepuluh gelas piccolo berikutnya ya...
Ini bukan tentang mencari piccolo yang terenak, ini tentang menikamati hidup menjelang setengah abad, yah kan?

Cheers, Dhidie




Thursday, 23 April 2026

Lebaran Tahun Ini

 Apa bedanya lebaran tahun ini sama lebaran tahun lalu?


Braga after the rain

Lebaran tahun ini dalam lima gambar:

1. Buka puasa di tempat sate begitu sampai Bandung

Kalau tahun lalu kita buka puasanya di Rest Area dan fast food. Dan tahun ini kita buka puasa terniat sate hadori yang famous itu. Cuma karena udah kemaleman, banyak sate yang udah ga ada alias sold out but it's okay, I hade great time with my boys. 

2. Kumpul untuk Foto keluarga

Kali ini kita kumpul tiga keluarga. Jadi yah heboh banget sih. Dan karena kali ini lebarannya kita beda hari jadi kita foto keluarga dulu sebelum besok gue harus nginep di hotel. Heboh dan lama banget sih, tapi yah kalau ngumpul kan emang selalu seru.


3. Ngabuburit nonton bioskop

Nah, ini versi dari keluarga satu lagi, karena kita nginep di hotel yang deket Braga, why not ga nonton di Braga kan? Akhirnya ngabuburit kita. Nonton Tunggu Aku Suksesnya Ardit. Jadi berasa jaman kecil yang kita nonton warkop setiap kali lebaran. Kayanya tahun depan harus diulang deh dimana pun kita lebarannya.


4. Shalat Eidnya berempat

Tahun lalu shalatnya cuma berdua sama mertua jadi tahun ini kerasa lebih seru karena ceweknya ada berempat sama ade ipar dan keponakan. Akhirnya kerasa lebarannya seru yah, kan?






 5. Ngopi di hari pertama Lebaran
Ini juga hal yang ditunggu2, ngopi pertama setelah lebaran. Kalau tahun lalu kita ga sempet ngopi kecuali malam pulang taraweh terakhir di Fore yang kita ulang juga di tahun ini. Kali ini nyobain kafe deket hotel yang seru. 

Coffee shopnya ada perpustakaannya seru banget


Udah deh, Alhamdulillah akhirnya kita balik lagi ke Jakarta, setelah mampir dulu ke BS sebentar, Lumayan kan lima malem di Bandung. 

Sampai ketemu lagi di Ramadhan tahun depan, Insya Allah.

Cheers, Dhidie







  





Saturday, 18 April 2026

Road Trip TransJawa - Day 4

 Mari kita lanjutkan perjalanan kita yang sudah tertunda berbulan2. Kali ini kita masuk ke episode terakhir karena yah memang sudah waktunya untuk pulang. 

Pagi-pagi yah sarapan, gak terlalu banyak maunya sih, karena kita masih mau mampir di Cirebon untuk nginep satu malam di rumah mertua. Jadi kita cuma sarapan, beres2 dan yuk pulang. Terima kasih Hotel Aryaartha yang selalu menyenangkan. 

Oh yah, tadinya kita mau mampir dulu strolling around Prawirotaman, tapi pas sampai di depan Tempo Gelato ternyata antriannya sudah mengeluar sampai keluar. Kita lupa kalau hari ini sudah libur natal sudah pasti populasi turis di Jogja semakin memadat. Yah, sudahlah meskipun kecewa karena pengen banget nunjukin ke anak2 sisi lain dari kota Jogja yang menurut gue paling menyenangkan. 

breakfast, percaya ga kalau cuma makan ini aja?

Apa boleh buat, akhirnya langsung mengarah pulang. Mampir sebentar di rest area untuk beli kopi. Dan dapat kejutan ternyata dibeliin gelato pelipur lara.. ahahaha...


meskipun bukan tempo yang penting gelato

let's go

Kemudian berhenti lagi di rest area karena lapar. Jadi kita makan siang menjelang sore. Sebenarnya anak2 juga sudah cukup besar untuk ga makan terrlalu tepat waktu sih. Tapi ternyata orang tua yah tetap orang tua ga pengen anaknya sakit. Kali ini pilihannya ke nasi padang. Makanan pemersatu keluarga, yah kan? Gue lupa sih ini kita berhenti rest area mana, yang pasti selanjutnya tujuan kita rest area pabrik gula.



Dan begitu sampai di rest area pabrik gula ini, hujan turun deraaaassss sekali. Jadi agak lari2 kita untuk masuk ke dalam. Tapi yah pengen nunjukin ke anak2 kalau ada rest area yang unik kaya gini. Seperti biasa gue belanja kayu2an dan telor asin. Dan nunggu hujan sedikit reda baru lanjut perjalanan ke Cirebon.






Akhirnya perjalanan berakhir juga begitu kita masuk ke kota Cirebon. It was so fun, ternyata berempat lebih menyenangkan dibandingkan cuma berdua aja. Karena ga khawatir ninggalin anak2. InsyaAllah tahun depan diulang lagi yah road tripnya. Alhamdulillah.


Cheers, Dhidie

Thursday, 26 March 2026

Road Trip TransJawa - Day 3

 Tiba-tiba udah bulan Maret aja, yah kan?



Dan mari kita lanjutkan cerita perjalanan kita ke Jogja. Di hari ketiga, lagi2 ga banyak ekspektasi. Cuma hari ini kita memang niat ke Borobudur, sebenernya kaya candu aja gara2 tahun lalu kita berdua ke Borobudur dan kepikir kenapa kita ga ajak anak2 aja yah? Karena jujurly gue bangga juga sama pengelolaan Candi Borobudur yang udah profesional ala2 tempat wisata di luar negeri. Yah kan?



So, karena besok kita udah mau pulang, jadinya kita belanja oleh2 pagi2. Sebenernya cuma gue dan anak2 sih. Kita jalan kaki ke daerah per-bakpia-an yang ternyata ga jauh dari tempat kita nginep, cuma memang ga pernah jalan kaki aja sih. Terus habis belanja bakpia, kita terusin jalannya ke Malioboro. Ngeliat Malioboro pagi2 dengan kondisi yang sangat sepi kok menyenangkan sekali ya. Lanjut kita ke pasar, karena gue masih penasaran pengen beli ampyang yang entah kenapa jadi susah banget dicarinya di Jogja ini, dan tahun lalu terakhir kali gue nemunya di Pasar Beringharjo. Dan tapi ternyata masih pada tutup, akhirnya yah order gocar balik ke hotel, setelah sebelumnya sempet bungkus sate kere.. hahaha... tetep yah jajan.

Balik ke hotel, kita langsung breakfast, Eh ternyata si sate itu enak juga. Jadi mirip sate jando tapi dia bukan bagian jando tapi bagian koyor yah kalau orang Jawa bilang dan dimasaknya manis kaya sate maranggi. Pantes aja orang kalau di Malioboro pada nongkrongin tukang sate, Cuma gue ga pernah tertarik beli karena takut debu. Kalau yang tadi kan gue kaya beli di warung gitu, meskipun tetep di pinggir jalan sih. 

Habis brekfast kita istirahat sebentar dan lanjut menuju mal terbesar di Jogja. Karena pengalaman sebelumnya Borobudur tuh hujan. Kita rencananya mau belanja payung dulu di Pakuwon Mal yang kebetulan memang lokasinya di Sleman searah dengan Borobudur. Dan gue amaze banget lihat mal yang besar dan mewah banget ini. Seru banget, jadi sementara kita belanja batik di Pasar, orang Jogjanya sih jalan2 di mal ini... hahaha... Anak2 juga kaya betah gitu, si sulung langsung menghilang cari toko buku. Mereka seperti menemukan habitatnya. Hahahaha....


Ada mal sekeren ini di Jogja!

Habis belanja payung, kita shalat dulu. Kerennya mal ini adalah dia juga punya mesjid di dalamnya. Jadi instead of mushola, ini beneran mesjid namanya Al Husna. Jadi berasa seneng aja bisa shalat dengan proper. Karena masih kenyang akhirnya kita cuma beli minuman gitu dan lanjut menuju Borobudur. 


good to be back

mari kita berjalan menuju puncak

dan hujan....
akhirnya sampai di Puncak


Seru, kali ini belum hujan. Tapi akhirnya ternyata begitu mau naik ke Candi, hujannya lebih serius dari tahun lalu. Dan deras banget. Untungnya kita udah siap mental dan yah pasrah aja dengan segala kebasahan ini. Alhamdulillah kita semua kondisinya juga lagi sehat jadi ga kenapa2 setelah hujan2an. Dan akhirnya kesampaian juga sekeluarga di Borobudur. Sebenernya yang belum pernah ke Borobudur sama sekali anak gue yang kecil, dan ini udah keempat kali gue ke Borobudur. Cuma kenapa selalu menyenangkan ya? Bebatuan vibes ini mungkin memang cocok buat gue.. hahaha...

Capek dan macet pas menuju jalan pulang. Kedinginan juga, cuma yah kita bertahan aja. Dan si bungsu punya wishlist pengen ke distro di Jogja. Karena memang searah akhirnya kita mampirin. Dan fortunately tempatnya ternyata coffee shop yang masuk ke wishlist gue juga, jadi gue juga happy dong. Jogja tuh bener2 slow living. Bener2 tempat buat day dreaming dan mencari inspirasi. Mungkin bukan buat kerja, tapi cocok buat belajar. Jadi gue tetap Love Jakarta.

Coffee shop ini ada tempat jual PHnya juga, dan harganya yang bikin kaget karena masih ada kentang goreng dengan harga 15rb! Kopinya juga enak, interiornya artsy, dan nyaman aja. Gue pesen latte, karena mereka ga jual piccolo. Tapi ga apa2. Seenggaknya liburan ini gue mampir ke satu kedai kopi di Jogja.  Next kita lanjut pulang ke hotel, gue udah order makanan di perjalanan biar begitu sampai, makanannya juga sudah sampai.

accidentally mendarat di coffee shop wishlist


 mencari harta karun

kentang enak dengan harga yang tidak masuk akal



kopinya juga enak



sederhana tapi menyenangkan

Hari yang melelahkan sekaligus menyenangkan di Jogja. Alhamdulillah. Tapi besok mau pulang, so sad.....


Cheers, Dhidie

Wednesday, 25 March 2026

Ramadhan Tahun Ini

 Ga ada yang bisa tahu rencana Allah, iya kan? Sebelum Ramadhan gue ngomong, enak nih tahun ini bisa lebih sedikit ga puasanya. Gue bakal upload video tadarus online tanpa jeda waktu. Tapi ternyata....



Seperti biasa ternyata gue masih nervous aja setiap kali Ramadhan, ternyata belasan tahun mengalami pengalaman berulang masih membekas di kepala gue. Kecemasan2 yang terjadi di masa lalu kaya belum sepenuhnya hilang meskipun gue ga tahu apa yang gue cemaskan tapi rasanya masih sama setiap Ramadhan gue pasti jadi nervous. 

Mari kita bedah kecemasan masa lalu gue ttg Ramadhan. Siapa tahu bisa menjadi penawar kalau kita masih bertemu Ramadhan tahun depan yah kan? Yang pertama begitu mau mulai Ramadhan takut bangun kesiangan, pusing mikirin menu buka dan sahur, takut tiba2 asma tapi ga bisa pakai inhaler. Untuk yang terakhir rasanya kecemasan ini harus dihilangkan karena sudah ada jawabannya. Next menjelang mudik, cemas siapa yang bisa kasih makan kucing2 selama kita pergi, cemas pembantu ga balik lagi. Tapi untuk yang terakhir harusnya juga udah ga masalah karena sekarang pembantu udah bukan masalah dan gue juga udah jauh lebih terbiasa sama rumah gue. Ada lagi kecemasan waktu lebarannya karena kalau bisa gue pengen ada di dua tempat sekaligus, karena ga enak lebaran jauh dari keluarga inti. Dan gue juga bersiap untuk menghadapi kekecewaan2 yang mungkin terjadi, gue juga harus bersiap untuk bisa menerima apa aja yang ga sesuai sama ekspektasi gue. Gitu... dan sebenarnya ini juga udah ada solusinya dengan gue spend Idul Fitri sama keluarga mertua dan Idul Adha di keluarga Bandung. Sebenarnya udah beres kan? Yah gitu deh kalau terlalu bermain-main dengan pikiran sendiri yang semuanya belum tentu benar.

Next, balik lagi apa yang terjadi dengan lebaran tahun ini. Setelah berjibaku sepuluh hari dengan jadwal yang padat, bangun jam 2 pagi buat siapin sahur, ngedit video dan upload video di youtube, lanjut tadarus sampai jam 10. Dan balik lagi ke dapur jam 4 sore kemudian ibadah2 lainnya. Kurang tidur, kurang makan karena gue lagi ngurangin karbohidrat, dan stress upload video lengkap sudah. Di hari kesepuluh gue pulang dengan sesak nafas yang parah tapi gue paksain buat tetep puasa. Dan akhirnya gue harus ke IGD besoknya dan tepar ga ikutan tadarus selama 4 hari. Sebenernya jadinya total hampir setengahnya gue ga puasa. Itu yang namanya takdir. Jadi setelah sakit, boro2 mikirin video, gue cuma mikir gue harus sehat, gue harus khatamin Al Quran, gue harus bisa ibadah lagi dengan tenang dan ga ketinggalan. Yah, manusia memang cuma bisa berencana aja sih ya. Di saat itu gue cuma pengen sehat aja, makan yang banyak, yang penting sehat,urusan berat badan mari kita pikirkan lagi nanti setelah gue benar2 sehat. Boro2 nerima pesanan kue, yang ada bangun dari tempat tidur juga udah susah banget. Akhirnya gue merelakan Ramadhan ini tanpa jualan kue. 

Berbaik sangka kepada Allah, sakit ini yah Allah kasih biar gue bisa istirahat ga usah mikirin duniawi. Pengen bikin gue lebih bersyukur dengan sehat dan kesempatan beribadah yang lebih  banyak di waktu sehat. Bikin gue hidup dengan gaya yang lebih sehat dan kebiasaan hidup yang sehat juga. Mudah2an istiqomah ya...

Alhamdulillah di sepuluh hari terakhir gue udah benar2 sehat dan bisa beribadah lebih khusyuk lagi. Entah kenapa rasanya lebih berkesan aja dengan lebaran tahun ini karena mungkin gue juga belajar mengingat banyak hal dan bersyukur lebih banyak.

Taqqaballahu wa minna waminkum, semoga ibadah kita diterima oleh Allah SWT dan bisa bertemu dengan Ramadhan Tahun depan. Aamiin....


Cheers, Dhidie


Saturday, 21 February 2026

Road Trip TransJawa - Part 2

 Jujur agak nervous gue dengan road trip dengan para cowok2 ini. Tau kan gimana anak cowok, yang kalau ditanya terserah dan ngikut aja? Helpppp... 

Hari kedua bangun pagi di Jogja sekeluarga berasa blessing banget. Badan masih capek, memang paling ideal itu kalau perjalanan minimal 4 malam kalau satu hari buat sampe dan malam pertama masih penyesuaian. Jadi sebenernya yang kita enjoy banget cuma dua malam, karena malam terakhir pasti kita udah sibuk siap2 mau pulang.

Ternyata enaknya pergi sekeluarga itu adalah kita jadi lebih tenang aja karena kita semua ada di situ, biasanya kan kaya setengah hati kita ada di rumah. Ada perasaan was was di saat jam-jam makan atau jam jam pulang. Tapi kali ini... plong tenangggg karena semuanya ada lengkap di depan mata.

Ke Jogja kali ini sebenarnya kita ga banyak rencana sih, cuma pagi ini kaya tradisi... Eaaa... tradisi... Kita mau shopping kecil-kecilan di Pasar Beringharjo, terus mau sunsetan di Parang Tritis sebelumnya mau lunch di Sate Klatak Pak Pong mumpung searah ceritanya. Sebenarnya ga searah juga sih tapi yah lumayan searahlah.

Jadi, paginya kita sarapan dulu di hotel. Hotel yang menyenangkan ini punya sarapan yang simple dan ga ribet tapi cukup homy. Seperti biasa kalau di Jogja dimanapun hotelnya gue wajib meracik Bubur Gudeg pas sarapan. Yah, sebenarnya sebenarnya cuma bubur ayam terus dikasih toping gudeg aja sih... Hahaha....

Terus lanjutlah kita siap-siap buat ke Pasar Beringharjo, kali ini naik grab karena udah mulai panas. Karena udah siang. Cuma mau lihat-lihat batik aja dan pasarnya udah mulai ramai juga. Kalau di pasar ini harus pintar pilih2 bahan biar ga dapat yang bahannya ga nyaman dan ujung-ujungnya jadi ga kepake.

Pasar Beringharjo

Next kita akhirnya mutusin buat ke Museum Vrederburg yang selama ini cuma kita lewatin aja. Gue pernah manggung angklung di Monumennya tahun 2024 lalu, tapi ga sempet ke museumnya, jadi mumpung sama anak2 yang bukan anak2 lagi ini, Marilah kita wisata museum. Ternyata museumnya cukup keren dan rapi, karena yah memang bangunan lama juga. Gue lupa sih tiket masuknya berapa tapi jujurly gue enjoy banget keliling2 di museum ini. Dan ternyata luas juga yah, Bunnnn.


cantik banget bangunan ini

mau kemana kita?

Jadi, museumnya sendiri terdiri dari beberapa bagian, ada diorama 1 dan 2, kayanya dibagi berdasarkan masa sebelum dan sesudah kemerdekaan. Terus ada bagian theaternya juga. Cukup apik dan cantik dan yang penting terawat dan informatif. Sekian laporan pandangan mata... hahaha...


kenapa yah bangunan lama selalu menarik untuk dilihat?

menyusuri lorong waktu

baju penjara jaman dulu estetik banget

merdeka

bisa nonton sejarah

my team my adventure :)
 
cantik banget ya

Balik ke hotel sebentar untuk shalat kemudian langsung kita jalan lagi untuk makan Sate Klatak Pak Pong di daerah Bantul. Baru inget kalau di Jogja ini, makan tuh harus sabar-sabar menunggu. Jadi yah kita bener2 baru makan siang jam setengah tiga untung enak dan ga mengecewakan. Satenya enak, tongsengnya juga enak. Dan unexpectedly otak-otaknya juga enak. Kalau harga sih yah so so aja untuk ukuran resto sebesar ini. Atau yah karena kita udah terbiasa sama harga di Jakarta juga kali yah....

akhirnya makan siang

setelah bertahun2 ke sini lagi

Next, akhirnya kita menuju ke Parangtritis untuk berburu sunset, sempet pesimis bisa ga dapat sunset. Alhamdulillah tercapai cita-citanya yah..  Setelah terakhir ke Parangtritis gue lihat sunset dari atas di Obelisk ternyata jauh lebih menyenangkan buat lihat sunset di bawah gini tanpa jedag jedug musik. Cuma ngerasain pasir, angin, dan air laut. Dan sunset-nya cantik banget dan untungnya gak hujan. Anak-anak pada main ATV sementara gue langsunglah foto2... Seperti biasa. Pantainya lumayan hectic tapi tetap menyenangkan.

Selalu ngerasa breath taking banget kalau di sini. Pantai selatan memang beda impresinya dibandingkan pantai di Bali kan? Kaya lebih mencekam gitu. Selesai sunset kita mutusin untuk balik ke hotel dan rencananya mau ngopi-ngopi di sekitar hotel aja. 

hello, beach!



Finally sunset

awannya pun cantik sekali

Berujung kita order delivery fried chicken yang cuma ada di daerah Jawa gitu. Yang terakhir kita order lumayan enak. Dan habis makan, hujan deras jadi udah males banget pergi2... Hahaha... emang keluarga paling mager kayanya ini.

Sekian hari kedua kita. Alhamdulillah, bersyukur banget Road trip bareng anak2 ini kejadian juga.


Cheers, Dhidie