Ga nyangka, akhirnya sampai juga ke part 4, berarti gue udah minum 40 piccolo dari 40 tempat yang berbeda. Ga nyangka ternyangka bakal jauh lebih cepet. Semoga sesuai rencana. Dan untuk lima piccolo gue akan minum dari 5 arah tempat yang berbeda. Semoga. Dan tampaknya kopi2 batch keempat ini lebih banyak di sekitar rumah... hahaha... mulai yah mager kamu,Indri!
31. Simetri
Ini coffee shop yang sebenernya pengen banget gue coba dari lama. Dia ada juga di daerah Gandaria. Tapi akhirnya mereka buka di Pondok Indah perumahan gitu. Dan akhirnya kesampaian. Kopinya enak, katanya termasuk tier satu perkopian. Tempatnya homy dan cozy. Pokoknya nyaman banget, karena yah dasarknya memang rumah tinggal aja yang dibikin jadi kedai kopi jadi masih ada kolam renang di halaman belakangnya.
32. Filosofi Kopi Blok M
Ini sih, udah ga asinglah yah. Berhubung gue suka novel dan filmnya juga. Meskipun termasuk deket rumah tapi gue belum pernah ke Filkop yang di Blok M. Pernahnya yang di Jogja. Karena kaya rame terus kalau keliatan dari luar dan tempatnya kaya ga begitu besar. Tapi...ternyata emang ga besar sih. Berhasil curi2 waktu ke sini setelah beli buku di Gramedia. Dan sesibuk itu sih tempat kopinya. Piccolonya enak.
33. Tujuhari Coffee
Kalau ini ga sengaja, habis main padel simulator ternyata ada coffee shop yang menjual piccolo di tempat padelnya. Jadi yah, Alhamdulillah kan. Piccolonya enak dan ini gue pertama kali minum piccolo dari gelas daur ulang..Hahaha... No fancy fancy yah judulnya.
34. Little Langkah
Kalau ini coffee shop dari Bali yang buka di sekitaran Fatmawati. Tempatnya kecil mungil lucu gitu. Karena semua interior sampai gelas2nya dipikirin detil banget. Saking kecilnya kita jadi bisa ngobrol sama baristanya karena yah kecil dan sepi. Cuma ini pas kebetulan sepi aja, biasanyanya sih rame. Piccolonya enak. Suka. Yang enaknya lagi ga usah bayar parkir karena emang ga ada tukang parkirnya.
35. Plan B
Penasaran sama kedai kopi yang pemiliknya juara barista internasional beberapa kali. Tempatnya kecil di samping Supermarket aneka buana Cirendeu. Ternyata ga ada menu piccolo, cuma dia bilang mau bikinin aja. Tapi kok agak mengecewakan karena terlalu milky jadi beneran mirip flat white. Mungkin miscomm antara kasir dan baristanya. Positif thinking nya gue sih demikian. Cuma kalau diingat2 yah sedih sih, karena waktu itu gue terakhir antar salon kucing gue Frosty yang sekarang udah ga ada.
36. Nom Nom Nom
Ada satu kedai kopi deket rumah yang udah lumayan lama dan ga pernah kesampaian buat ke sana. Dan ternyata mereka punya piccolo yang enak. Plus disajikan dengan sempurna bersama infused water peppermint plus satu potong cookies. Perfect! Definisi don't judge a book by its cover ya...
37. Kopi Pak Pos
Siapa sangka piccolo ke 37 dinikmati di Jogja. Setelah kemarin ke Bandung dan ga berhasil minum piccolo, akhirnya gue ngopi juga di malam terakhir di Jogja. So Happy. Cafenya adalah kafe yang sangat vintage karena tadinya merupakan bagian dari kantor pos besar di Tugu Jogja. Literally gue terpesona sama interiornya yang sangat vintage. Termasuk coffee shop yang memorable sih versi gue.
38. Narabe
Habis dari Jogja kita balik lagi buat ngopi di sekitar lebak bulus. Iya, ini tempat kopi yang udah muncul terus di Tiktok tapi gue ga sempet2 mampir. Hampir mampir satu waktu tapi gue bingung pintu masuknya dari sebelah dan ternyata memang se-healing itu sih. Kita bisa ngopi sambil ngeliat yang hijau-hijau.
39. Again - Bintaro
Kenapa ditulis lokasinya, karena ada juga Again di Blok M dan Again2 cabang lainnya. Agak beda coffee shop ini, karena begitu masuk langsung disambut sama meja DJ, pantesan slogan mereka Coffee and Sound. Ngopinya pun dari gelas kertas dan duduk di kursi kemping gitu. Pengalaman baru. Tapi ternyata suasana santai ini yang bikin mereka rame terus.
40. Bali Coffee Club
Karena ga kesampean terus ngopi di Bali, kita ke sini aja. Habis main padel simulator sama si bungsu kita nongkrong di sini demi piccolo ke-40. Yah kopinya masih seenak waktu pertama kali gue ngopi di sini. Dan ternyata sekarang ada tempat yoga dan pilates dan lapangan pickle juga. Yang seru karena ngopinya bener2 diiringin instrumental musik Bali yang bikin jadi berasa di Bali banget. Alhamdulillah.
Gitu deh, perjalanan minum piccolo di sepuluh tempat yang berbeda bagian keempat. Masih ada sepuluh piccolo lagi sampai menjelang usia 50 tahun nanti.
See You, Dhidie























































