Featured post

Monday, 26 April 2021

Apa yang akan kamu lakukan kalau kamu kembali ke masa lalu?

Lo harus nonton ini, Mba. Bagus banget.

Gitu kata salah satu temen gue sesama pencinta drakor. 

Cus akhirnya gue nonton 18 again...





Drama ini sebenarnya diadaptasi dari fim Hollywood dengan judul 17 again. Gue udah nonton sih. Dan Bagus. Ceritanya tentang seorang cowok di umur 40an yang mengalami krisis paruh baya. Di usia ini dia merasa sudah gagal menjadi seseorang. Satu hal yang menganggu pikirannya adalah dia selalu menyalahkan masa lalunya. Karena dia dan kekasih masa SMAnya terpaksa menikah karena sang kekasih hamil yang akhirnya menghentikan mimpinya menjadi atlet basket profesional. Perasaan menyalahkan dan tidak dapat menerima kenyataan ini akhirnya menjadikan hubungan rumah tangga maupun perannya sebagai seorang suami seperti terpaksa. Bukannya berusaha menjadi lebih baik, si cowok ini malah sibuk menggerutu dan menyesali keputusannya, sehingga dia selalu merasa tidak bahagia. 

Kemudian apa yang terjadi ketika dia tiba-tiba bisa kembali menjadi seorang anak berusia 18 tahun? Nonton aja yah, gue mau jadi spoiler di sini. 

Drakor kedua yang gue tonton masih dengan tema yang mirip, judulnya, "Hello, Me!". Ceritanya sama tidak masuk akalnya. Tapi yang ini lebih tidak masuk akal tapi sangat dalam maknanya. Di drakor ini, sang tokoh utama, seorang cewek berusia 37an, karena suatu kejadian bertemu dengan dirinya di masa SMA. Melalui sosok remaja dirinya itu, dia seperti diingatkan bagaimana kehidupan begitu menyenangkan 20 tahun yang lalu, dan bagaimana dia dulu adalah karakter yang menyenangkan dibandingkan saat ini. 

Kemudian, apa maksud gue menulis ini? Karena hari ini gue ulang tahun. Di umur dengan dua angka yang sama sejak 11 tahun yang lalu. Gue jadi mengingat2 apa yang terjadi 11 tahun yang lalu. Yang gue ingat adalah gue masih bekerja di kantor yang baru saja gue tinggalkan, mungkin sekitar setahunan lebih. Gue ingat masa-masa gue harus jungkir balik menjadi sales kredit modal kerja di bank yang waktu itu gue bilang akan menjadi bank terakhir tempat gue bekerja. Bagaimana dengan keluarga ? sebelas tahun yang lalu berarti anak pertama gue baru kelas dua SD dan anak kedua gue baru 4 tahun umurnya. Lalu bagaimana dengan gue saat ini? yang paling terasa adalah sudah ada satu mahasiswa dan satu remaja yang menemani gue di rumah. Sebelas tahun yang lalu mana terpikir kalau gue akhirnya baru resign dari kantor itu sepuluh tahun kemudian. Sebelas tahun yang lalu mana terpikir kalau gue akhirnya menerbitkan tiga buku dan akhirnya terjun ke dunia per-oven-an. Sebelas tahun yang lalu mana terpikir kalau gue akhirnya bisa mewujudkan obsesi gue untuk kulian S2 finansial meskipun cuma mengambil sertifikasi finansial planner. 

Hidup memang tidak bisa ditebak kemana arahnya. Seperti masa lalu yang diingat bukan untuk disesali, namun untuk dijadikan Pelajaran agar tidak mengulang kesalahan yang sama dan menjadikan kejadian-kejadian baik di masa lalu sebagai motivasi di masa sekarang. Meskipun gue termasuk orang yang unbelievably romantic dengan masa lalu, gue adalah orang yang bisa memilih masa lalu mana yang mau gue ingat dan mana yang harus gue lupakan agar tidak menjadi toxic untuk masa depan gue. 

Lalu, apa hubungannya dengan drakar-drakor tadi. Memang mungkin menyenangkan kalau bisa kembali ke masa lalu, ketika dunia hanya terlihat indah saja. Tidak ada ketakutan kehilangan pekerjaan, tidak ada ketakutan tidak bisa menyekolahkan anak, tidak ada ketakutan bagaimana kehidupan setelah pensiun nanti (meskipun sekarangpun gue sudah pensiun..:)). Tapi jangan sampai muncul pertanyaan "what if" di kepala kamu. karena semua perjalanan yang membawamu sampai ke titik ini adalah sebuah perjalanan yang sudah sempurna dirancang untukmu. Gue selalu berpikir kalau gue tidak boleh menyesali keputusan maupun kejadian yang sudah terjadi, seperti, harusnya gue masuk SMA itu, harusnya gue ambil kuliah jurusan itu, harusnya...harusnya...harusnya.... Tapi kalau dipikir2 kalau keputusan2 itu yang gue ambil, mungkin hidup gue juga gak akan seperti sekarang ini. Gue mungkin gak akan sampai ke titik ini yang sangat gue syukuri hari ini.


Gitu deh, Happy birthday to me!!

Cheers, Dhidie

Wednesday, 24 March 2021

Menabung, di awal atau di akhir ? #ngobrolfinansial

Rasanya pasti klise kalau ngobrolin tentang menabung. Tapi yah biar bagaimana, dari kecil kita sudah diajarkan untuk menabung. Mungkin dulu pakai celengan tanah liat yang berbentuk ayam. Atau kalau dulu kita pengen sesuatu yang rada mahal, kita pasti disuruh sama orang tua kita untuk nabung dulu sebelum bisa membeli barang yang kita impikan seperti sepeda atau sepatu roda. Sepatu roda? Tua banget yah gue :D


Waktu belajar di CFP kemarin ada satu pembahasan awal yang cukup menarik, yang berujung membahas tentang si menabung ini.  Awalnya kita disuruh berlatih bikin financial Chek up untuk menghitung kesehatan finansial kita. Dari beberapa pos yang kita isi, ada yang namanya saving ratio, yaitu perbandingan antara total tabungan dan total pendapatan per bulan. 


Waktu itu terus terang gue bingung isinya karena ternyata selain premi asuransi setiap bulannya gue ga pernah nge-budgetin berapa nominal yang gue harus tabung setiap bulannya. Jadi biasanya gue akan menganggarkan segala macam pengeluaran termasuk investasi dan kemudian gue akan membiarkannya saja. Sampai kalau kemudian di akhir bulan ada sisa uang, nah itulah nominal tabungan gue. 


Tapi kemudian diskusi berlanjut, ketika kita diminta untuk membuat anggaran pengeluaran, muncul suatu kesimpulan, berarti menabung itu sebaiknya dianggarkan pada saat kita baru menerima pendapatan. Nah, kenapa gue ga tahu dari dulu yah?


Jadi sebenarnya apa keuntungan untuk melakukan memasukan tabungan ke dalam budget bulanan kita?


Pertama, tentu saja untuk menghindari dari overspending alias boros. Kita akan cenderung untuk membeli hal-hal yang tidak penting karena merasa saldo kita masih cukup. Pendapatan juga akan cenderung habis tanpa sempat untuk ditabung. 


Kedua, untuk membantu lebih cepat dalam mencapai tujuan finansial. Apa sih tujuan finansial? Tujuan finansial setiap orang pasti berbeda-beda. Ada yang ingin memiliki dana pensiun karena ingin hidup sama nyamannya dengan saat ini di masa pensiun nanti, ada yang ingin menyekolahkan anaknya sampai S2 ada juga tujuan dengan jangka waktu yang lebih pendek seperti membeli mobil, memiliki rumah, dan sebagainya. Detilnya akan kita bahas di tulisan yang lain yah. 


Berapa sih idealnya jumlah tabungan per bulan yang harus disisihkan? Saving ratio atau rasion menabung yang ideal untuk kondisi keuangan yang sehat adalah > 10%, Misalnya pendapatan kita sepuluh juta, idealnya kita menyisihkan satu juta untuk ditabung. 


Menabung dulu atau dana darurat dulu?

Bingung kan? Sebenarnya ini bisa dilakukan secara bersamaan. Kita bisa menabung dulu untuk dana darurat sampai mencapai nominal yang ideal yaitu untuk karyawan dana darurat itu 3-6 kali pengeluaran bulanan sedangkan untuk freelancer/pengusaha adalah sebesar 12 bulan pengeluaran. Jangan lupa dana darurat ini sifatnya harus yang mudah diakses/likuid/bukan investasi.


Setelah dana darurat terkumpul, baru kita mulai menabung atau berinvestasi untuk jangka waktu yang lebih panjang. Sebaiknya kita mulai disiplin untuk melakukan tabungan ini. Menabung atau berinvestasi sama baiknya. Gue juga masih belajar, tapi minimal gue sudah menyisihkan profit dari bisnis-bisnis online gue untuk ditabung dan sebagian gue investasikan ke saham dan obligasi. 


Kuncinya adalah disiplin setiap bulannya, kalau merasa tidak bisa consistent bisa menggunakan fasilitas auto transfer atau mungkin tabungan berjangka yang bersifat auto debet dari rekening induk. 



Lalu, bagaimana kalau kita sudah mencapai ke nominal ideal? Misalnya sudah tercapai si dana darurat ini? 


Yah itu tadi, kita bisa mulai berinvestasi, bisa dalam bentuk reksadana, saham blue chip atau mungkin logam mulia? Hal ini untuk menghindari overspending karena dana yang ada di tabungan lebih mudah diakses dibandingkan apabila sudah dalam bentuk investasi. Jangan lupa, sesuaikan jenis investasi dengan tujuan finansialmu ya?



Gitu aja ngobrol finansial Kali ini, semoga bermanfaat, jangan lupa menabung yah?

Jangan lupa juga cek ig tv di akun instagram @ceritarasa127 untuk pembahasan finansial praktis lainnya.



Cheers, Dhidie. 

Tuesday, 16 March 2021

Penthouse - War of Life #bahasdrakor

Setelah drakor Start-Up, sebenarnya yang happening lagi adalah drakor dengan judul "Penthouse". Awalnya gue males nonton, karena gue pikir bakal kaya TWOM yang boring dan lambat sampai gue akhirnya menyerah dan ga ngelanjutin nontonnya. Tapi ternyata, setelah berturut2 gue nonton "It's Okay Not To Be Okay" lalu lanjut ke "Cheat On Me If You Can" yang semuanya tentang orang yang secara kejiwaan ga normal, gue langsung jatuh cinta sama si serial ini. 

Plot dan twist dari drakor ini cukup menarik sih kalau menurut gue. Antara dia pengen mengejar rating dan memuaskan pemirsaahhh, tapi ga terkesan murahan dan tetap elegan. Mungkin karena akting pemainnya yang menurut gue karakternya ditulis dengan begitu detil dan dijiwai juga sama setiap pemerannya. Jadi yah, gue ga peduli kalau orang bilang ini sinetron banget. Menurut gue drama ini keren sih dan nagih. Karena porsi sweet dan suspense-nya sama banyaknya. Jadi bikin ga bosen aja. 

Sedikit brief buat yang belum nonton, ceritanya berkisar di lingkungan sebuah penthouse yang sangat elite. Dimana ada sekelompok yang ekslusif termasuk si pemilik gedung itu sendiri ada di sana. Pertemanan yang digambarkan sangat akrab, padahal ketika dalam kendisi terdesak semua orang mengeluarkan sifat aslinya. Faktor anak2 menjadi benang merah utama dalam serial ini. Digambarkan bagaimana, sejahat apapun seseorang, apabila menyangkut tentang anaknya, akan rela berkorban demi kebahagiaan anaknya. Bagaimana orang tua begitu bersaing dan menginginkan semua yang terbaik untuk anaknya, meskipun pada akhirnya anak2 menjadi sangat manja dan bertingkah seenaknya, bahkan sampai tega untuk melakukan perundungan terhadap anak lain yang dianggap inferior. 

Cerita pembuka adalah kematian seorang gadis di penthouse tersebut, yang akhirnya membuka cerita-cerita selanjutnya. Cerita semakin berkembang dan menarik dan selalu menyisakan rasa penasaran bahkan hingga penthouse season satu berakhir. Gue ga akan bercerita banyak di sini, cuma sekedar merekomendasikan saja. Nonton dong... :P

Yang menjadi highlight di sini adalah kasih ibu adalah benar sepanjang masa, perilaku orang tua akan selalu ditiru oleh sang anak dan sifat asli seorang teman baru akan terlihat pada saat bersama-sama di kondisi yang buruk, dan balas dendam tidak akan menyelesaikan masalah, malah akan memperburuk keadaan. 

Yah, itu aja sih...

Selamat menonton, season kedua yah....


Cheers, Dhidie





Wednesday, 24 February 2021

Latte Factor, apaan sih? #ngobrolfinansial


Topik ini merupakan topik pertama yang kita bahas di IG Live Ngopi kira2 bulan Desember yang lalu. Kenapa kita Memilih untuk membahas ini? Karena yah enak aja buat diskusi karena relate banget sama kehidupan kita sehari-hari, terutama untuk temen-temen yang masih ngantor atau gue sebagai mantan karyawan. 

Waktu zaman ngantor, ngopi itu udah seperti kebutuhan pokok yang ga bisa dilewatkan. Kalau  kamu sendiri, kamu ingat ga? Berapa kali dalam satu minggu kamu order kopi?
 Di zaman pandemi ini karena harus WFH pasti yang sering dilakukan yah order kopi yang literan itu. Atau untuk yang memang sejak awal freelancer atau bekerja dari rumah, sekarang juga ga bisa tuh mampir-mampir ke Coffee Shop untuk nebeng WIFI, jadi kebutuhan kafeinnya pasti akhirnya diselesaikan dengan delivery si kopi ke rumah. 

Seandainya dalam satu minggu seseorang menghabiskan seratus ribu rupiah untuk membeli kopi, maka dia akan menghabiskan Rp. 400 ribu untuk kebutuhan kopinya per bulan. Itu kalau cuma order satu botol yang literan, kalau ordernya lebih dari satu per minggu atau ditambah tetap mampir di coffee shop juga karena bosan kerja dari rumah, berapa pengeluaran kopi kamu sebulannya?

Sebenarnya, gue mulai sadar tentang si latte factor ini ketika baru aja mulai ikut kelas sertifikasi financial planner. Waktu itu ketika sang Dosen bilang, kalau anggaran bulanan ngopi kita kita rutin investasikan ke instrumen keuangan seperti reksa dana atau saham, sudah berapa besar investasi kamu saat ini? Dan menghabiskan yang untuk membeli kopi di masa-masa ngantor dulu, merupakan salah satu kesalahan finansial yang gue lakukan. 


Kenapa?

Bayangin, dulu waktu masih kerja, gue bisa tiga kali dalam sehari mengeluarkan uang untuk beli kopi. Pagi hari, setelah makan siang, dan sekitar jam tiga sore ketika selesai meeting dan otak udah mulai ngebul, gue akan mampir lagi cari kopi yang agak strong. Waktu kerja dulu, kopi memang seperti kebutuhan dasar, mungkin lebih dari makan nasi. 


Apakah kopi merupakan satu-satunya contoh dari Latte Factor? Sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan Latte Factor?


Latte factor dipopulerkan oleh David Bach, melalui buku-bukunya. Dia melihat  fenomena yang terjadi bahwa banyak orang menghabiskan uang secara rutin untuk membeli kopi. Menurut Bach ini, kebiasaan tersebut merupakan contoh pengeluaran rutin yang apabila diakumulasi akan membuat pengeluaran besar.


Latte Factor ini biasanya terjadi dengan alasan kenyamanan dan emosional. Hal-hal kecil yang bisa dikategorikan sebagai latte factor misalnya embelli segelas kopi, berbelanja cemilan di minimart, belanja aksesoris, hijab, alat masak, taksi/transportasi online, order makanan di melalui aplikasi, dan pengeluaran kecil lainnya. Intinya latte factor setiap orang mungkin saja berbeda-beda. 


Sebenarnya pengeluaran apa yang bisa dikategorikan latte factor? semua pengeluaran kecil yang tidak benar-benar menambah niai ataupun memberikan kebahagiaan dalam hidup. 


Mari kita berhitung.

Seandainya dalam satu hari kita membeli kopi tiga kali, misalnya dalam satu hari kita membeli segelas americano seharga 45ribu, kemudian setelah makan siang kita membeli kopi susu kekinin seharga 18 ribu, lalu di sore hari kita membeli secangkir piccolo seharga 35 ribu. Dalam satu hari saja kita sudah mengeluarka Rp.98 ribu untuk membeli kopi. Kalikan saja dengan 22 hari kerja dalam satu bulan. Berapa yang kita habiskan dalam satu tahun?


Cukup mengerikan yah?


Kalau kita simulasikan anggaran beli kopi kita per tahun itu kita investasikan di Reksadana pendapatan tetap dengan return konvensional 8%, dalam lima tahun jumlah tersebut sudah menjadi berapa?


Atau mau lebih konservatif, kita belikan logam Mulia dengan return 8% lah per tahun.


Mungkin uang kecil kita itu, sudah menjadi uang besar sekarang.


Jadi ga boleh beli kopi lagi?

Bukan begitu sih, mungkin kita bisa mulai melakukan subtitusi dengan membuat sendiri kopi kita dirumah misalnya ? atau mengurangi frekuensi pembelian kopi itu sendiri. Kemudian kelebihan dananya kita investasikan di instrument investasi untuk keperluan kita di hari tua. 


Point-nya yang harus diingat adalah esensi dari kehidupan. Bahwa kebahagiaan itu tidak berasal dari hal yang rumit, tapi dari hal-hal yang sederhana. 


Mau ngobrol lebih lanjut tentang finansial, yuk join IG Live @ceritarasa127 setiap minggu...



Cheers, dhidie





Thursday, 28 January 2021

Ngopi - Ngobrol Finansial - Behind The Scene

 Finally....Sebenernya gue bikin tulisan ini karena obligasi aja. Apa sih obligasi itu ? Obligasi adalah surat hutang. Enggak deng, hehehe.... mentang2 mau ngobrol finansial langsung pembukaannya obligasi aja. 

Gue sebenarnya memang berencana untuk mulai nulis tentang finansial setelah gue berhasil lulus sertifikasi finansial planner, yang Alhamdulillah sudah berhasil gue capai di bulan Desember kemarin. Setelah S1 sekitar hampir 25 tahun yang lalu, akhirnya gue berhasil menyelesaikan sesuatu yang berbau ilmu lagi, yaitu certified financial planner.

Kenapa kok gue ngotot banget pengen Belajar lagi tentang keuangan?

Ini sebenarnya bukan ide semalam aja. Tapi mengambil sertifikasi ini sudah pengen gue lakukan mungkin sejak hampir sepuluh tahun yang lalu? Kenapa gue tertarik? Gue tertarik buat Belajar tentang keuangan lebih dalam, kalau dulu lulus kuliah, sebenarnya gue pengen banget ambil S2 manajemen keuangan, cuma karena kondisi tidak memungkinkan akhirnya enggak sempat gue lakukan. Dan gue terlena dengan dunia kerja dan kesibukan gue berkeluarga sampai akhirnya ga terasa waktu ber lalu begitu cepat. Dan kayanya kok ga masuk akal untuk membagi waktu antara kerja, mengurus rumah tangga dan kuliah. Akhirnya impian untuk lanjut kulian lagi terlupakan sampai gue merasa gue sudah terlalu tua untuk kulian lagi. 

Sampai akhirnya, teman2 kantor gue di cabang dibayarin buat ikutan training financial planner ini di salah satu universitas swasta di Jakarta. Gue pengen banget, tapi waktu itu pekerjaan gue ga nyambung sama sertifikasi ini sehingga gue ga bisa juga mengajukan ke kantor untuk ikutan training ini. Dan biayanya pun cukup mahal, menurut gue, sehingga pasti enak kalau ga perlu bayar sendiri... hehehe.  Dan gue merasa sertifikasi ini mungkin menjadi obat, hahaha... iya, obat penawar untuk membalas ketidakbulatan tekad gue untuk melanjutkan kulian S2 di bidang finansial. 

Dan sampailah akhirnya di keputusan kalau gue akan mengundurkan diri dari dunia perbankan selamanya. Dan uang pensiun gue, gue pergunakan untuk mendaftarkan diri di kursus ini. Itupun karena secara ga sengaja, ketika gue lagi browsing instagram, nungguin sahabat gue di satu coffee shop di kantornya (maaf terlalu detil.... :D), tiba gue teringat cita2 gue yang ini. Gue langsung mencari dimana gue bisa ikutan training ini dan muncullah MM UGM sebagai jawaban gue. Dan yang menyenangkannya lagi karena di masa pandemi kelas akan dilakukan full online, meskipun gue harus mengorbankan hari Sabtu gue selama empat bulan, tapi It's worth every seconds I spent. Gue bener2 tidak menyesal sedikitpun...(mungkin beberapa kali aja, kalau menjelang ujian modul) sudah mendaftar di kelas ini. 

Kenapa finansial planner? Apakah gue akan menjadi seorang financial planner seperti safir senduk atau ligwina hananto? Sebenarnya bukan itu. Gue pengen aja jadi penulis finansial, dengan background gue sebagai mantan mahasiswa ekonomi, penulis dan praktisi di industri keuangan selama lima belas tahun, kok kaya semua seperti nyambung aja. Tujuan gue cuma mau jadi penulis finansial.. udah itu aja. Kalaupun nanti gue akan mengamalkan ilmu gue untuk membantu orang lain merencanakan keuangannya, yah gue ingin lebih fokus untuk membantu orang dalam membebaskan orang dari hutang2nya, at least financial freedom versi kecil2an. I really want to help people who's in debt. Ironis yah ? mengingat sebagian besar karir gue, gue habiskan di bidang kredit. Kadang idealisme muncul dari keseharian kan? Bukan itu aja sih, secara overall gue ingin ilmu yang gue dapatkan bisa bermanfaat supaya orang bisa memiliki kendisi finansial yang sehat, tidak konsumtif, dan tahu prioritas keuangan dan tujuan keuangan yang ingin mereka capai. Sedap kan? hahahaha

Lalu, apa selanjutnya. Gue memang belum punya rencana apa-apa. Cuma ke depannya gue akan nulis santai tentang finansial di blog ini. Selain nulis2 tentang drakor yang gue tonton... :) Supaya orang lebih melek finansial, agar orang tahu kalau finansial itu ga ribet kok, karena gue akan melihat dari kacamata gue sebagai orang yang baru melek finansial. Kok ngurusin duit sih? Rejeki kan udah ada yang mengatur? Iya, bener. Tapi kalau kita bisa punya rencana keuangan yang lebih baik tentu kita tidak mau menyusahkan keturunan kita di hari tua nanti kan? Semua agama juga mengajarkan untuk tidak hidup berlebihan, dan dengan kondisi keuangan yang lebih baik, yang pasti kita jadi bisa lebih banyak membantu orang ? bener ga?

Lalu yang lainnya apa? Sebenarnya satu minggu sekali sudah hampir dua bulan ini gue sharing tentang literasi finansial di IG LIve bareng temen CFP gue. Gak lama sih cuma sejam, dan minggu depan udah masuk episode ke delapan. Kita bahas yang enteng2 dan berinteraksi sama temen2 yang kebetulan nonton IG Live kita. Gue cuma berharap kalau apa yang gue lakukan bisa bermanfaat buat orang lain.


Udah sih itu aja, sampai ketemu di tulisan finansial gue yang sebenarnya... 


Cheers, Dhidie


Monday, 11 January 2021

After One Year - My Life After I Quit (Part 6)

 Demi Masa.

Tahun 2020 itu adalah tahun tersingkat dalam hidup gue, gimana tiba2 sudah hari Senin, tiba2 sudah Jumat lagi dan begitu terus. Banyak yang udah terjadi, tapi karena tahun ini bisa dibilang ga normal, jadi kaya tiba2 sudah Desember aja, bahkan gue masih inget apa yang gue lakukan di malam tahun baru 2019 kemarin. 


Yang paling gue inget lagi adalah setahun yang lalu gue efektif melepaskan status gue sebagai karyawan bank yang merknya sudah melekat hampir 11 tahun lamanya. Yang lebih penting lagi meninggalkan status gue sebagai perempuan bekerja untuk menjadi ibu rumah tangga penuh waktu. Yah akhirnya gue mulai terbiasa dengan profesi baru gue. 

Tulisan-tulisan seri gue My Life After I Quit yang sampai 5 episode itu sebenarnya merupakan salah satu terapi gue dalam menghadapi perubahan status ini. Tapi gue memang perlu media untuk merekam apa yang terjadi selama satu tahun ini. Sebelum menulis ini, gue baca tulisan  pertama yang waktu itu cukup  heboh (in my version hehehe) karena gue ga nyangka ternyata banyak yang memberikan dukungan atas keputusan gue untuk berhenti bekerja pada waktu itu. 

Lalu apa yang terjadi satu tahun kemudian, untuk membuatnya lebih sederhana gue akan membaginya menjadi tiga fase:

Fase Pertama - Fase Penyangkalan

Atau bisa dibilang fase denial. Gue masih belum berasa apa2 karena masih di rumah aja kan? Satu bulan kemudian gue sempat ke Bandung menengok orang tua, sempat liburan sebentar kemudian pulang liburan gue langsung sakit. Mungkin hampir sekitar tiga bulan gue merasa badan gue ga fit. Pokoknya serba salah aja. Belum lagi tiba2 di Akhir Maret kita semua harus karantina, yang membuat beberapa rencana yang ingin gue lakukan setelah gue berhenti bekerja menjadi tertunda.  Mungkin yang bikin happy adalah gue jadi ga sendirian di rumah karena semua penghuni rumah berkegiatan di rumah. Tapi seperti lagu Raisa, gue terjebak nostalgia. Otak gue bilang kalau gue sedang cuti dan gue merasa tidak ada yang berubah. Karena sosmed gue masih dipenuhi teman-teman kantor. Dan celakanya gue baru sadar kalau selama ini gue telah mengabaikan teman2 yang lain sehingga gue seperti mendadak kesepian. Kemudian masuk bulan Ramadhan dan Idul Fitri. Mungkin karena tidak banyak aktivitas juga yang bisa dilakukan membuat  gue merasa tidak ada yang berubah. Mungkin juga, perasaan itu merupakan bagian dari fase denial gue. Dan gue masih di fase yangmenyangkal kalau sekarang gue tidak punya pekerjaan. Untuk sedikit pengalihan akhirnya gue ikut satu workshop menulis selama sebulan yang untungnya seperti menyadarkan kembali kalau salah satu alasan gue resign adalah gue ingin bebas bisa menulis kapan saja.

Fase Kedua - Fase Penerimaan

Di empat bulan kedua, gue akhirnya bisa mulai bisa menerima status baru gue. Gue mulai terbiasa dengan menjawab pertanyaan orang yang gue jawab dengan, gue sekarang ibu rumah tangga yang penulis dan juga berjualan tas online. Sampai akhirnya gue harus kehilangan salah satu sahabat yang harus pindah ke kota lain. Gue merasa gue harus mulai memiliki aktivitas lain. Gue akhirnya mengambil sertifikası financial planner di UGM dan gue mulai menerima order membuat roti dan kue yang Awalnya cuma iseng2 saja. Ternyata kedua kesibukan baru itu bisa membuat gue lebih mudah untuk menerima diri gue sebagai manusia tanpa institusi. Gue akhirnya sibuk mempersiapkan status baru gue. Gue juga mulai bisa menerima kalau gue sekarang bisa menghitung berapa jumlah teman gue dan gue mulai membuka diri terhadap pertemanan baru lewat aktivitas yoga dan angklung yang rutin gue jalanin setiap minggunya.


Fase Ketiga - Fase Merelakan

Di empat bulan terakhir, akhirnya gue bisa merelakan masa lalu gue. Gue sudah enjoy dengan semua aktivitas baru gue. Gue sudah merelakan "teman-teman" gue untuk akhirnya menikmati waktu gue dengan lingkungan aktivitas baru gue. Dan gue bahagia dengan terbatasnya teman yang gue miliki sekarang. Gue bahagia dengan dukungan yang mereka berikan kepada apa yang gue kerjakan sekarang. Satu per satu gue mulai menyelesaikan apa yang sudah gue mulai, gue mencetak buku gue, akhirnya berhasil menyelesaikan sertifikasi finansial gue dan berusaha terus belajar untuk menyempurnakan skill baking gue. Dan gue sekarang bisa sharing literasi finansial melalui instagram satu minggu sekali.  Gue bahagia dengan apa yang bisa gue capai sejauh ini.


Kesimpulannya apa?

Tidak mudah melepaskan sesuatu yang sudah melekat selama bertahun-tahun. Menggantikan rutinitas yang sudah berulang selama bertahun-tahun. Nikmati saja prosesnya jangan berusaha terlalu keras, tapi Jangan juga terlalu terbuai dengan masa lalu.

Just let it go, let it flow and find the new you....



Cheers, Dhidie



Monday, 30 November 2020

#bahasdrakor Start Up? Choosing Between Past and Future

Mari kita membahas sesuatu yang receh Hari Ini.



Start Up adalah drakor kesekian yang gue tonton di masa karantina ini. Cara gue menentukan suatu drakor bagus atau enggak, yah coba aja Nonton episode pertamanya, kalau ternyata gue penasaran dan pengen lanjut ke episode kedua, berarti gue bakal suka sama overall drama ini. Tapi bisa aja kalau misalnya ada ngereferensi-in drakor dan gue ga suka episode pertamanya, gue akan bertahan coba eposide keduanya, kalau ga works juga, ya udah tinggalin aja, mungkin drama itu bukan untuk gue. Hahaha.. penting banget ini topiknya.

Apa yang menarik dari Start Up. Pertama, karena dia membahas tentang topik yang lagi happening dan relate ke generasi angkatan kerja sekarang. Ketika generasi sekarang dengan bangga bilang, " Gue kerja di perusahaan Start Up." Kemudian teman-teman yang kaya ngeliat dia dengan tatapan," How lucky you are.." Drakor ini benar-benar menggambarkan kondisi seperti itu. Kayanya kerja di satu perusahaan atau membuat suatu perusahaan "start up" itu menjadi impian para fresh grade. Apapun nama perusahaannya, berapapun gajinya dimana pun lokasinya, kata "start up" seperti impian angkatan kerja baru. Dan "Start Up" berhasil mewakili impian itu. Dengan suasana kantor yang "Google" dan "Silicon Valley" banget, pakaian yang casual, fasilitas kantor yang mewah dan lengkap, belum lagi outdoor yang kayanya seru aja bisa kerja sambil santai-santai di taman, bikin mata kita dimanjakan sama background yang keren2 sepanjang drama.

Kedua, apa yah? Bae Suzy. Gue suka banget sama dia sejak di Uncontrollable Fond, terus while you're sleeping. Actingnya menurut gue sih selalu oke, dan punya karakter. Di sini dia berperan sebagai, Seo Dal Mi, seorang gadis pekerja keras namun seperti selalu dalam situasi yang tidak menguntungkan. Tapi seperti quotes yang akhir2 nampak sangat popular," kerja keras tidak akan mengkhianati hasil" nampaknya dia akan berakhir demikian. 

Ketiga, konflik percintaan yang sederhana namun tampak rumit bagi orang yang mengalaminya. Ketika seorang gadis harus memilih di antara dua pria yang menaruh hati padanya. Kombinasi karakter dua pria yang pada awalnya merupakan satu orang di pikiran sang gadis. Satu orang dari masa lalu dan satu orang dari masa sekarang yang bersjamaan muncul dan membuat semuanya jadi membingungkan. Nam Do San dan Han Ji Pyeong, yang akhirnya memunculkan dua team di kehidupan nyata. Team Ji Pyeong dan Team Do San, bahkan sampai ada hashtag #kawaljipyeong di twitter :)

Ji Pyeong merupakan orang dari masa lalu Dal Mi yang mengisi khayalan sama kecilnya melalui surat2 yang diselipkan di sebuah kandang burung yang terletak di pohon di depan warung neneknya. Sedangkan Do San, adalah seorang programmer, pemenang Olimpiade Matematika, yang semula diminta untuk berpura2 menjadi Ji Pyeong di depan Dal Mi, namun berujung benar2 jatuh cinta kepadanya. Kenyataan bahwa sosok yang selama ini tertanam di benak Dal Mi adalah dua orang yang berbeda adalah suatu konflik yang dimunculkan secara menarik. 

Gue pun sempat berdebat dengan teman gue sesama penggemar drakor. Ketika dia bertanya," Lo team siapa?" Gue langsung bilang, gue team Do San. Kenapa? Menurut gue setidaknya Do San lebih berani dalam mengungkapkan perasaannya dibanding Ji Pyeong yang awalnya bersembunyi dan tidak mau mengakui bahwa dia yang selama ini menuliskan surat kupada Dal Mi. Lalu gue di-challenge lagi," Tapi kan Ji Pyeong lebih mapan, lebih merupakan pilihan yang realistis buat seorang wanita." Tetap gue bertahan, Do San tetap sesuatu real menurut gue yang hadir di kehidupan saat ini dan dengan terbuka melakukan sesuatu yang jelas untuk menunjukkan rasa cintanya kepada Dal Mi. Sometimes what you feel is more important than what you are. Itu menurut gue, dan gue belum tahu drama ini akan berakhir gimana. Karena siapapun yang dipilih Dal Mi, yang pasti jalan ceritanya sudah cukup menghibur buat gue.

Kalau kamu, team siapa ?


Cheers, Dhidie