Featured post

Thursday, 29 July 2021

Home Sweet Home #NgobrolFinansial

 Beberapa drakor yang gue tonton akhir2 ini bercerita tentang rumah. Bagaimana seseorang berusaha begitu keras untuk akhirnya bisa memiliki rumah impian mereka. Bagaimana rumah menjadi sangat penting karena merupakan tempat kita berlindung. Kita bisa saja tidak membeli baju baru ataupun makan seadanya dan tetap merasa bahagia, selama kita memiliki rumah yang menjadi tempat kita berlindung. Satu hal yang selalu menjadi pertanyaan setiap orang adalah, mau tinggal dimana? Ketika kita harus menuntut ilmu di kota lain, bekerja di suatu tempat bahkan berlibur, bahkan ketika kita baru menikah, pertanyaan yang pertama kali harus kita jawab adalah mau tinggal dimana?


Seperti yang sudah kita pelajari sejak di bangku sekolah dasar, kebutuhan utama manusia terdiri dari tiga yaitu sandang, pangan, dan papan. Rumah merupakan kebutuhan utama manusia, ya iya dong, kalau enggak dimana kita bisa tidur, kemana kita akan pulang setelah seharian bekerja, yang lebih penting di situasi pandemi ini, rumah bahkan menjadi satu persyaratan utama, Work From Home, Learning From Home, untuk saat ini “everything is doing from home” termasuk untuk melakukan isolasi mandiri di masa pandemi ini. 

Definisi rumah bagi setiap orang pun berbeda-beda. Ada yang berpendapat, rumah adalah tempat kita pulang setelah seharian bekerja di luar rumah. Ada yang berpikir yang penting dari rumah adalah dengan siapa kita tinggal di dalamnya, ada yang berpikir rumah itu harus di tengah kota, di pinggir kota yang penting dekat dengan orang tua. Bagi gue sendiri rumah adalah tempat dimana seharusnya gue bisa menjadi diri sendiri, bisa menghabiskan waktu bersantai, melakukan semua kegiatan yang gue sukai, bisa menangis, bisa menyendiri, dan bisa mengaturnya sesuai dengan keinginan gue dan membuat gue bahagia. Itu aja. 

Waktu kecil dulu, mungkin kita sudah membayangkan rumah impian kita akan seperti apa ketika kita sudah dewasa nanti. Satu tingkat? Dua tingkat? Ga apa2 kecil asal berhalaman luas atau mau tinggal di apartment aja, biar masih di tengah kota dan cenderung lebih simpel buat membersihkannya.  Dulu, rumah impian gue adalah di tepi pantai, seperti bed and breakfast di film Night at Rodante. Tapi kemudian, gue sempat juga pengen punya rumah di daerah yang tinggi biar udaranya dingin. Ketika sedang semangat2nya bekerja, gue merasa kok kayanya lebih baik tinggal di apartemen, praktis dan ga terlalu perintilan yang harus diurusi. Tapi yah, mungkin seiring bertambahnya usia, kebutuhan akan rumah ideal pun bisa berubah-ubah pada setiap orang. Sekarang yang terpikir adalah dimana gue akan menghabiskan masa tua gue nanti, rumah ideal seperti apa yang gue inginkan? 


Tapi sebenarnya, apa saja sih yang harus kita ketahui sebelum mewujudkan cita-cita untuk memiliki rumah impian itu, gue dapat ini dari beberapa referensi yang menurut gue memang ini seharusnya harus dipikirkan sebelum kita memiliki sebuah rumah, apa saja?


1. Pikirkan secara matang, apakah membeli sebuah rumah lebih baik daripada menyewanya. 


Membeli sebuah rumah adalah sebuah keputusan besar di dalam hidup. Banyak faktor yang harus dipikirkan, seperti biaya perawatan, mungkin pinjaman yang harus dicicil setiap bulannya, dan yang paling penting membeli sebuah rumah berarti sebuah komitmen, membeli rumah bukan seperti membeli baju yang bisa ditukar maksimal tujuh hari kalendar. Rumah yang sudah dibeli tidak bisa kita abaikan begitu di saat kita bosan atau tidak puas. Yah begitu. Mungkin untuk yang saat ini belum berkeluarga atau pasangan yang baru menikah, menyewa atau mengontrak rumah lebih masuk akal dibandingkan langsung membelinya, sampai sudah yakin tentang "komitmen" yang gue sebutkan tadi, bolehlah membeli rumah. Meskipun tentu saja, menunda pun tidak selalu baik, mengingat harga property yang pasti akan semakin tinggi setiap tahunnya. 


2. Menggunakan Real Estate Agent


Mencari rumah melalui agen properti akan jauh lebih praktis dibandingkan mencari sendiri.Karena mereka akan berusaha untuk mencarikan yang terbaik, dan yang pasti sudah memiliki list sesuai dengan spesifikasi dan lokasi yang kita inginkan. Tentu saja harus agen yang memiliki nama baik. 


3. There's No such A Perfect House

Mungkin kita punya spesifikasi tertentu tentang rumah impian, tapi tidak ada rumah yang sempurna, bahkan rumah yang dibangun sendiripun belum tentu sempurna pada akhirnya. Sebaiknya menetapkan hal-hal apa saja yang utama yang diinginkan dari rumah impian kita, tapi jangan membuat kita menjadi menunda dan tidak akan pernah menemukan rumah yang benar2 kita inginkan. 


4. Mengumpulkan Uang Muka

Sebaiknya sudah mulai menabung untuk uang muka, meskipun kita belum menemukan rumah yang cocok untuk kita. Menabung tidak pernah salah kan? Dan besarnya uang muka juga akan  sangat berpengaruh pada besar cicilan kita ke depannya. Semakin besar down payment semakin kecil cicilan atau semakin singkat masa cicilan kita. Intinya harus berhemat. 


5. Location, location, location

Lokasi yang tepat akan membuat perbedaan yang besar, rumah yang “jelek” di lokasi yang baik adalah lebih baik dibandingkan rumah yang “baik” di lokasi yang buruk. 

Apa saja yang harus dipertimbangkan dalam memilih lokasi: 

  1. Jarak ke tempat kerja, waktu tempuh yang diperlukan, misalnya jauh tapi dekat stasiun sehingga bisa ke tempat kerja dengan cepat. Bisa menghemat ongkos dan waktu juga. 
  2. Lingkungan yang aman, rasa aman bila harus keluar rumah di malam hari, atau apabila ketika kita terpaksa harus meninggalkan rumah dalam keadaan kosong adalah sangat penting. Lingkungan yang aman juga bisa merendahkan rate yang harus dibayar untuk asuransi property untuk kebutuhan KPR.
  3. Fasilitas Umum,  bukan cuma ke tempat kerja tapi juga ke fasilitas umum lainnya, seperti jalan tol, sekolah, rumah sakit, pasar, stasiun kereta api, dsb. Jarak dan waktu tempuh dalam mobilisasi akan membuat perbedaan yang besar. 


6. Size doesn't matter

Rumah yang besar berarti  biaya yang besar juga. Terkadang apa yang diperlukan oleh rumah besar dan rumah kecil sama saja, sisanya adalah lahan untuk menyimpan benda2 yang mungkin sudah tidak kita perlukan. Ukuran rumah yang ideal adalah yang baik untuk dua hal, bisa menerima tamu dan punya tempat penyimpanan untuk barang2 kita.


7. Minor Comestics

Kadangkala ketika mencari rumah kita kurang sreg dengan warna dindingnya, atau lantainya atau mungkin elemen fisik lainnya yang sebenarnya bisa dirubah dengan mudah bila kita sudah memiliki rumah tersebut. Jadi kalau melihat ada yang kurang cocok coba bayangkan apakah hal tersebut bisa dirubah dengan mudah, bayangkan juga dekorasi dan barang-barang milik kita yang kira-kira akan kita simpan di sana. 


8. Cari KPR yang terbaik

Shopping around beberapa bank untuk mencari kredit yang terbaik dan tidak memberatkan kita ke depannya. Dari sisi rate, downpayment, jangka waktu dan  kemudahan untuk melakukan perubahan tenor maupun besar cicilan, biaya2 admin yang lebih murah, dll. Pertimbangkan jangka waktu, jangan terlalu singkat dan jangan juga terlalu panjang. Kalau bisa mendapatkan masa bunga fix yang lebih panjang adalah lebih baik agar bisa memprediksi pengeluaran kita. 


10. Jangan lupa persentase hutang/cicilan yang tidak boleh lebih dari 35% income kita

Ingat persentase loan dibandingkan income. Jangan lupa untuk memperhitungkan hutang lainnya yang kita miliki seperti KTA dan kartu kredit.


11. Pikirkan lagi bila ingin melakukan renovasi sendiri. 

Biasanya karena rumah pertama jadi maunya semua dikerjakan sendiri, kalau tidak mempunyai keahlian dan pengalaman renovasi lebih baik menggunakan jasa renovasi karena biaya lebih jelas dan hasilnya lebih baik. 



12. Enjoy buying and settling into your new home  

Mungkin prosesnya menakutkan karena membeli rumah berarti komitmen, setelah Akad Jual Beli dilakukan, waktunya untuk pindah ke rumah baru. Tidak perlu terburu-buru untuk membeli furniture dan melakukan renovasi sana sini. Nikmati saja prosesnya, setelah tinggal di rumah baru, kamu akan lebih tahu sebenarnya apa saja yang kamu butuhkan untuk membuat rumah kita lebih nyaman.


Good luck, selamat mencari rumah impian yah....

Obrolan ini ada di igtv @ceritarasa127 episode rumah impian....


Cheers,

Dhidie



“Home is the starting place of love, hope and dreams.”

“What I love most about my home is who I share it with.”


Thursday, 22 July 2021

The Good Doctor #nulisbarengdhidie

 Karena udah lama ga ikut belajar nulis, akhirnya nyobain kelas gratisan via WA. Kok bisa ? Iya, karena gue penasaran juga gimana caranya bisa ada kelas nulis tapi via WA, dan ternyata... Yah cukup okelah... Untuk Challenge-nya, kita disuruh bikin tulisan maksimal 500 kata dengan setting rumah sakit dan temanya niat jahat... Tadinya mau skip aja males ngumpulin karena rasanya lagi ga ada ide dan ga pengen nulis aja, tapi akhirnya setelah konsenterasi, jadi juga mini cerpen dalam 15 menit yang mengalir gitu aja. Kebayakan nonton Drakor gue kayanya....


Silakan disimak....


Aku melangkah masuk ke ruang operasi. Seorang perawat dengan sigapnya memakaikan jas operasi ke tubuhku dan mengikatkannya. Mirip seorang chef yang bersiap untuk memasak menu makan siang di restoran. 


“Selamat siang, nama saya Dokter Dina, saya akan memimpin operasi hari ini.” Semua perawat dan dokter anestesi menganggukan kepalanya. Sebuah tubuh terbaring di atas meja operasi, tertutup kain, hanya kepalanya yang tidak terlindungi. Dalam kondisi pucat setelah dibiuspun, wajah itu masih sama cantiknya. Meskipun sekarang ada beberapa kerut yang terlihat nyata di dahi dan sisi kedua matanya, namun sisa kecantikannya masih lebih mendominasi wajahnya. 


Aku menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Duduk di atas kursi operasi bersiap memulai operasi siang ini. Bersiap melakukan operasi pada sosok wanita di hadapanku. Wanita yang dulu membuat Ayah meninggalkan Ibu dan aku. 


“Scalpel?” Kataku sambil mengulurkan tanganku ke atas. Seorang perawat dengan sigap menyerahkan alat itu ke tanganku. 


Aku melihat dari kaca pembesar di hadapanku, adanya darah yang membeku di otaknya yang menjadi alasan dia dilarikan ke rumah sakit oleh anaknya ke tempatku bertugas karena mendadak terjatuh di kamar mandi. 


“Dokter Dina, tolong Mama saya yah?” Kata lelaki muda itu yang khusus menemuiku beberapa jam sebelum operasi dimulai. Aku hanya menganggukan kepalaku sambil tersenyum. Dia mirip sekali dengan Ayah ketika terakhir kali aku bertemu dengannya. Memang aku masih berumur sembilan tahun saat itu, tapi aku sudah mengerti pertengkaran berhari-hari antara Ayah dan Ibu yang terdengar sampai ke kamarku. Sampai akhirnya di suatu malam pintu depan berdebam keras dan Ibu menangis tersedu di depan pintu. Sejak malam itu aku tidak pernah melihat Ayah lagi secara langsung.  


Aku tahu kalau Ayah akhirnya menikah dengan Tante Dewi dan memiliki seorang anak laki-laki. Mereka bertiga hidup bahagia di sebuah rumah mewah di kawasan Jakarta Selatan. Aku tahu kalau Ayah sebenarnya sudah berhubungan dengan Tante Dewi selama lima tahun sebelum Ayah akhirnya benar-benar meninggalkan aku dan Ibu. Aku tahu Ibu sangat sedih sepeninggal Ayah hingga akhirnya jatuh sakit dan kemudian tidak pernah kembali sehat sampai akhirnya pergi meninggalkanku juga. Perjalananku menjadi dokter bedah ini, sungguh perjalanan panjang yang akhirnya bisa kuwujudkan dengan menjual satu-satunya harta peninggalan Ibu, rumah Keluarga kami. 


“Dokter, kondisi pasien semakin menurun,” seru seorang perawat. Jeritan monitor-monitor di dalam ruang operasi terdengar bersahut-sahutan. Aku menghentikan gerakanku, sungguh mudah bagiku untuk menjadikan ini sebagai kecelakaan di meja operasi dengan alasan kondisi pasien yang sangat buruk. Alasan yang bisa diterima semua orang. Aku ingin lelaki muda tadi juga merasakan penderitaan yang sama seperti yang dulu kualami, kehilangan orang yang dicintai. 


“Dokter Dina,” panggil seorang perawat dengan wajah panik. Aku kembali ke dalam kesadaranku, naluri sebagai dokter menyadarkanku di saat yang tepat. Aku berusaha fokus kepada apa yang kulakukan, hingga akhirnya monitor-monitor seperti terkendali dan tenang kembali. 


Hari ini, aku, Dokter Dina, berhasil menyelamatkan nyawa seorang wanita yang telah merebut Ayah dari Aku dan Ibu. 



Cheers, Dhidie

Friday, 2 July 2021

Pandemi - Karena Kita Hanya Mampu Bertahan

 Siapa yang menyangka kalau pandemi akan menjadi selama ini. Masih ingat banget gue kondisi di awal pandemi tahun 2020 lalu, kita masih bisa berencana, ga sabar nih nunggu tahun depan biar bisa ngumpul2 lagi, biar bisa ketemu lagi dan yang paling penting biar bisa liburan dan jalan2 lagi. Tapi apa yang terjadi satu tahun kemudian.

Pandemic stays... 




Bahkan sampai hari ini di bulan Juli 2021, this virus still exist and become stronger. Apa yang waktu itu kita sebut sebagai kondisi darurat, sekarang adalah bukan kondisi darurat lagi, tapi sudah menjadi kenyataan hidup yang harus kita hadapi setiap hari. Apa yang waktu dulu kita sebut sebagai new normal, sekarang sudah menjadi kondisi normal yang menjadi bagian kehidupan kita. Segala prokes, menurut gue sudah bukan prokes lagi, tapi sudah menjadi life style. Kalau boleh dibilang, masa lalu adalah masa lalu, dan yang kita hadapi sekarang adalah kenyataan yang sesungguhnya. 

Memakai masker, mencuci tangan, menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal dan tentu saja menjaga jarak, sudah bukan peraturan yang perlu diberi denda apabila kita melanggarnya. Semua orang sudah menerapkannya secara otomatis tanpa banyak tanya, tanpa komentar dan sanggahan apalagi keberatan. Karena semua orang ingin menjaga dirinya dan tentu saja orang2 yang dicintainya. 

Kondisi WFH dan LFH dulu dianggap sementara saja, tapi sekarang semua patuh ketika peraturan berubah-ubah sesuai dengan kondisi, hal tersebut menjadi sangat wajar. Lebaran via zoom, larangan mudik, mal2 yang tutup lebih awal, last order di restoran jam 8 malam, online parents-teacher meeting, menjadi hal yang akhirnya bisa diterima. Swab Antigen, PCR, Vaksin menjadi kosa kata baru yang mendadak familiar di telinga. Saturasi, isoman, hazmat, positif, negatif, adalah kata-kata yang pasti kita dengar setiap hari. Berita duka terus menerus mengalir lewat group2 di ponsel. If we're not that strong enough, maybe we'll break up in tears every time we read these kind of messages...

"Bapak ini meninggal."

"Suami gue positif"

"Kakak ipar, adik, tetangga, teman sekolah...."

" Dokter ini meninggal, dokter itu positif, satu rumah sakit nakesnya positif"

This is a new world with different perspective of life. So far.

This condition is a new condition that we have to get used to. This is not temporary, we just have to get used to it. Dan beruntunglah kita sebagai manusia yang tidak pernah kehilangan akal untuk tetap bertahan dalam situasi apapun. 

Membatasi bertemu dengan orang yang tidak serumah, menjaga jarak, tidak keluar rumah bila memang bukan kondisi darurat adalah hal yang sangat mulia untuk dilakukan untuk saat ini. At least we care about other people for not being outside. Setidaknya kita masih punya hati nurani dan kesadaran yang tinggi untuk menjaga tubuh kita sendiri. 

Mungkin kita lupa bagaimana wajah teman2 kita, bagaimana suara mereka, bagaimana nyamannya memeluk dan mencium kedua orang tua kita, adik dan kakak kita, bagaimana serunya ngobrol di kafe dan nonton bioskop sambil makan popcorn. Tapi yang kita tidak boleh lupa adalah bagaimana menjaga pikiran kita untuk tetap positif dalam menghadapi kondisi yang sangat luar biasa ini.

Percaya saja, semua kejadian ada hikmahnya. Mungkin suatu saat nanti kita bisa tersenyum atau bahkan tertawa mengingat masa2 ini. Mungkin suatu saat kita bisa bercerita kepada cucu kita bagaimana kita akhirnya bisa bertahan melewati masa ini. 

Mindfullness.

Karena waktu sekarang adalah sesuatu yang harus kita syukuri saat ini.


Jangan lupa bahagia


Cheers, Dhidie


Saturday, 26 June 2021

FOMO?? #NgobrolFinansial

Fear Of Missing Out alias FOMO

Pasti udah sering banget dengar tentang si FOMO ini kan? Istilah ini sebenarnya lebih sering terdengar ketika sosial media menjadi bagian dari kehidupan kita setiap harinya. Dimana orang berlomba2 untuk menunjukan eksistensinya di dunia maya. Makan di tempat yang hype, nonton film terbaru, atau mungkin punya gadget yang belum resmi masuk ke Indonesia. Dan ternyata gak cuma di kehidupan sehari2 di aktivitas finansial dan investment istilah FOMO ini kembali ramai. Kenalan dulu yuk sama si FOMO ini.


Sebagai salah satu kejadian FOMO yang baru aja terjadi di awal bulan ini adalah paket McD yang berkolaborasi dengan BTS. Semua orang berlomba-lomba beli dan melakukan posting di media sosialnya. Mungkin ada sebagian yang memang fanatik dengan boyband Korea ini, tapi mungkin saja ada segelintir orang yang cuma ikut-ikutan biar dianggap kekinian. Atau orang2 seperti gue yang beli karena review saus Cajunnya yang enak banget... Hahaha.... Nah segelintir orang yang membeli karena ikut-ikutan atau karena takut dianggap ketinggalan zaman ini yang mungkin termasuk ke dalam kategori FOMO.


Katanya, menurut suatu penelitian, gangguan FOMO ini banyak menimpa generasi millenial atau generasi Y. Siapa sih mereka? Kalau kamu lahir disekitaran tahun 18980-an dan tahun 1990-an, nah berarti kamu termasuk generasi itu. Rata-rata mereka menghabiskan waktu di depan layar ponsel dalam waktu 8-10 jam per harinya. Wow banget kan....


Penelitian lainnya juga menyebutkan kalau di Canada, generasi ini juga membeli sesuatu sebagai akibat dari FOMO. Sehingga mengakibatkan kecenderungan untuk gaya hidup boros. jadi kenali aja gejala ini, kalau kamu ga bisa lepas dari layar ponsel, lebih peduli sama kehidupan yang ada di sosial media, atau rasanya semakin terobsesi dengan kehidupan orang lain, mungkin kamu sudah terjangkit si FOMO ini. 


Memangnya kenapa kalau kita beli sesuatu karena orang lain beli juga? Apalagi kalau barang memang bagus dan uangnya juga ada. Yah, ga apa2 juga sih. Tapi perlu dipikirkan lagi ke dasar kita membeli sesuatu itu, apakah karena benar-benar butuh? Atau karena gak mau dibilang ketinggalan zaman?


Yang repot sebenarnya kalau FOMO ini sudah merusak hidup kita seperti berdampak pada kesehatan kita, bisa menyebabkan insomnia, depresi dan sebagainya, ga mau kan? Belum lagi kalau faktor-faktor lain seperti hubungan sosial dengan orang lain juga ikut terdampak. Apalagi kalau sudah merugikan secara finansial, ga mau banget kan?


Di bidang finansial juga kemarin sempat popular banget si FOMO ini. Pas orang2 lagi ramai investasi di saham karena ga bisa kemana2 di masa pandemik ini. Dan ada beberapa contoh FOMO di bidang finansial lainnya yang sehari-hari mungkin kita lakukan, seperti:


Menggunakan kartu kredit atau berhutang secara berlebihan.

Misalnya: membeli mobil baru atau bahkan membeli rumah. Karena FOMO tersebut kita akhirnya menggunakan kartu kredit atau bahkan mengajukan pinjaman demi rumah dan mobil baru. 


Berinvestasi tanpa memikirkan rencana finansial yang sebenarnya sudah kita tetapkan sebelumnya.

Misalnya: karena semua teman beli saham A kita ikutan beli saham tersebut, padahal sebenarnya secara resiko dan finansial goal kita sebenarnya dana investasi kita lebih cocok untuk diinvestasikan di reksadana atau obligasi. 


Mengeluarkan uang yang tidak diperlukan

Kita jadi membeli barang yang sebenarnya tidak terlalu besar manfaatnya untuk kita hanya karena semua orang membelinya, atau kita membeli makanan yang sedang hits hanya karena melihat2 foto di sosmed semua teman sudah mencobanya. 


FOMO ini sebenarnya merupakan reaksi fisik maupun emosional yang kita alami ketika kita kehilangan suatu kesempatan. FOMO ini bisa mengakibatkan rasa sedih atau tidak tenang dan bisa juga mengakibatkan kita tidak puas dengan apa yang sudah kita lakukan dan apa yang kita miliki. 


Ada obatnya ga? Ada dong, minimal kita bisa mencegahnya jangan sampai kita menjadi korban FOMO  ini, gimana sih caranya:


Pertama, Menetapkan visi atau tujuan hidup maupun tujuan finansial kita. Karena visi hidup setiap individu adalah berbeda. Misalnya, Apakah kita ingin mencapai Karir setinggi-tingginya, atau mencapai finansial freedom di usia 40 atau mungkin ingin menyekolahkan anak ke luar negeri?


Kedua, menetapkan benchmark untuk diri kita. Misalnya kita membutuhkan dana pendidikan anak sebesar sekian, ingin punya rumah dengan luas sekian di daerah  tertentu atau ingin pensiun dengan living cost sekian. Fokuslah dengan benchmark kita itu. 


Ketiga, membuat strategi untuk mencapai tujuan hidup maupun tujuan finansial kita. Misalnya untuk bisa finansial freedom di umur 40 tahun, kita harus berinvestasi dimana saja, untuk memiliki rumah impian kita, kita harus mulai menabung berapa per bulannya, dsb. 


Keempat, jangan mudah terpengaruh yang menyebabkan kita membuat perubahan dari rencana awal dan strategi yang sudah kita buat. Boleh mereview ulang rencana tapi bukan melakukan perubahan yang mendadak dan bersifat emosional. 


Jadi intinya, identifikasikan dulu apa penyebab FOMO yang kamu miliki. Fokuslah kepada diri sendiri bukan kepada kehidupan orang lain. Bertanyalah kepada diri sendiri, apakah yang dilakukan orang lain itu memang benar-benar ingin kita lakukan,  apakah barang yang dimiliki orang lain juga bermanfaat untuk kita? Karena pada dasarnya, rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau kan? 


Akhir yang paling penting adalah jangan lupa selalu bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini dan daripada fokus dengan apa yang kita lewatkan, lebih baik fokus dengan apa yang kita miliki. Setuju gak?


Ngobrol-ngobrol tentang FOMO ini juga ada di IGTV @ceritarasa127 lho. Yuk, ditonton...



Cheers, Dhidie




“One thing my pop always told me is you never count another man’s money. It’s what you’ve got and how you take care of it.” – Stephen Curry, NBA MVP

Thursday, 10 June 2021

PAMIT

 It's been more than a year, however memories stay like it was yesterday...

This was my farewell note to my beloved team, kalau kata SLANK, terlalu manis untuk dilupakan....

Dear team, 

Besok adalah hari terakhir saya setelah hampir sebelas tahun bekerja di kantor ini. Hal yang paling berat untuk saya adalah harus meninggalkan team yang sudah tiga tahun bersama. But life goes on, saya pergi bukan karena kondisi, tapi saya pergi karena saya merasa masih banyak hal yang saya harus eksplorasi di luar sana. Mungkin waktunya tidak tepat saat ini, tapi tidak akan pernah ada moment yang pas untuk kita berhenti. Seperti tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai sesuatu. Jadi saya merasa ini saat yang paling tepat untuk saya, ketika saya sedang diperlukan di rumah dan ada hal-hal lain yang ingin saya capai di luar sana.


Bekerja bersama dengan account management merupakan moment yang tidak mungkin saya lupakan. Bagaimana solidnya kita sebagai team, saling membantu, ada saat kita semua putus asa, tapi ada juga saat kita menarik nafas lega ketika suatu masalah sudah selesai, that’s life. Terima kasih untuk selalu kuat dan tidak patah semangat. Karena kita bekerja untuk diri kita sendiri, untuk men-develop diri kita untuk menjadi lebih ahli, untuk menjadi kuat untuk menjadi lebih sabar. Kalau semua itu bisa dilalui Insya Allah akan ada hasil yang dipetik di kemudian hari. 


Saya minta maaf apabila ada kesalahan yang saya lakukan, kalau terkadang saya tidak bisa mengendalikan emosi, tidak punya cukup sabar untuk menjawab dan menjelaskan satu persatu, bukan saya sengaja melakukan itu semua tapi saya ingin team account management menjadi lebih mandiri, lebih kuat, lebih cerdas dalam mencari solusi dan mengambil keputusan atas masalah yang dihadapi dan bisa belajar dari kesalahan-kesalahan yang pernah dibuat sebelumnya. Karena saya percaya sukses itu bukan tentang intelektualitas seseorang tapi bagaimana seseorang mau belajar sesuatu yang baru dan belajar dari kesalahan untuk menjadi lebih baik lagi. 


Pesan saya untuk semua... (berdasarkan abjad, seperti biasa):


A, gue kenal A sejak A baru join di commbank, karena gue handle team West Jakarta 1 waktu itu. Dari awal A memang bisa diandalkan, sales yang hebat tapi tidak pernah mau jadi sales. Kemudian ketika gue diminta handle team Account Management, A yang pertama kali request untuk join tapi tidak pernah diperbolehkan oleh bossnya. Sekarang sudah tercapai yah.

 Just enjoy the ride. Gue percaya you’ll be a good leader. 


B, waktu dikasih CV B, gue mikirnya, wah namanya sama dengan tokoh novel yang lagi gue tulis. Sekali interview langsung klik. Dan meskipun kelihatannya pendiam, celetukan2nya bikin kangen kalau dia lagi ga di meja. B bekerja dalam diam seperti tidak ada apa-apa, kalau masalahnya sudah berat banget, baru dia cerita. Atau gue yang harus bertanya duluan dengan merhatiin mukanya, merhatiin gerak-geriknya, baru dia akan cerita. Stay healthy yah, Bumil. Kabarin kalau sudah melahirkan. 


C, meskipun sama-sama sudah lama di kantor ini. Bener-bener baru kenal pas C di-assign di account management Surabaya. Terima kasih sudah mau join di account management, terima kasih sudah menjadi senior yang ga henti2nya digangguin sama adik2 di Surabaya. Saya minta maaf karena sering kurang sabar, kalau ada perkataan saya yang menyakitkan, semuanya cuma tentang pekerjaan tidak ada yang personal. Tetap semangat yah, C


D, satu-satunya yang follow up hasil interviewnya. Dan ternyata memang terbukti, she’s good at follow up. Senang karena D Bertemu jodohnya di sini. Semoga saya kecipratan pahalanya yah… :) keep up the good work yah, D. People will appreciate if we can show that we can work. 


E, ini juga udah kenal lama, waktu dia masih di team North Jakarta 1, cewek pertama yang join di AM Jakarta. Tapi pas dia join tetap Aja ga berasa ada ceweknya..hahaha…tapi minimal waktu itu anak2 cowok jadi pada semangat karena ada E. E itu kerjanya cepet banget, jadi gue ga perlu pusing ngecekin satu-satu, jadi terima beres. E sangat produktif, selama join di team AM udah dua kali cuti melahirkan. Jangan nambah dulu yah, E. Fokus sama kerjaan dulu...


F, member Black Pink, baru sebentar join di Account Management tapi memang jadi bikin team AM  khususnya Jakarta jadi lebih ceria. Jadi lebih cewek. Jadi lebih banyak yang mampir ke pojokan AM. Kalau udah kerja, nyaris tak terdengar, cuma kedengaran tak tuk keyboard aja. Kata-kata apa yang pas buat elo yah… tetap ceria, jangan berubah… gitu aja. 


G, Role model team AM. Semua orang pasti setuju, gue kenal G juga udah lama, sejak jaman dahulu kala yah....hahaha. Room mate kalau lagi ada piknik2 yang seneng banget ngobrol, terus gue tinggal tidur. Ini juga kerjanya ga pakai nafas, nge-gas terus, tapi masih sempat bantuin temen-temannya buat foto usaha dan visit. Ga pernah berhenti belajar, dan termasuk yang ga pernah gue pusingin juga kerjaannya, karena semuanya pasti beres. Pesan gue cuma, kalau ada kesempatan untuk ngambil tanggung jawab yang lebih besar, just take it. Kalau ga ada yang nawarin, yah minta. Karir itu kaya jodoh harus dikejar ga bisa cuma ditunggu. 


H, gue masih inget, nungguin anak ini join lamaaaaa banget. Karena ditahan-tahan sama tempat sebelumnya. Tapi setelah join, gue ga nyesel sih, karena anaknya cukup persistent dan bisa diandalkan. Cukup galak untuk follow up ke RM2, dan cukup lembut untuk follow up IM ke Risk dan Boss2. Ga kerasa yah, dari mulai lo masih gadis, nikah, sampai punya anak. Percayalah kantor ini adalah tempat paling ideal untuk mama2 muda. 


I, first impression, strong woman. Inget ga,  Dimana kita tanda-tangan OL waktu itu ? hahaha.. Pertama kali ngeliat, gue langsung ngerasa, cocok nih, tahan banting. Dan ternyata benar, sampai saat ini secara pekerjaan tidak pernah ada yang mengecewakan, meskipun jarak jauh, tapi I tetep rutin nelpon untuk update dan eskalasi, orangnya juga ga baper dan ga terlalu mikirin apa yang diomongin orang. Ini juga sama, dari mulai gadis sampai punya anak yah… tetap semangat yah…


J, member terkini dari Account Management. Kedatangannya sangat dinanti-nanti karena bisa menghilangkan beban renewal banyak orang :) Orangnya halus dan bekerja dalam diam juga. Meskipun baru join tapi udah berhasil bantuin LOS development, thanks a lot, Semoga segera mencapai impiannya…


K, member paling muda. Fresh Graduate dengan kualitas yang sama sekali ga fresh graduate. Langsung bisa lari, ga segan untuk nanya, selalu mau belajar, ga segan untuk follow up, ga segan untuk eskalasi, bahkan ikut memikirkan apa yang terbaik untuk team. Thank you, Nice having you in team. Working is about maintaining good relationship internal and external...


L, Kenalnya juga juga udah lama bangettttt. Waktu dulu di team South Jakarta dan sekarang balık lagi di Account Management. Semangatnya sih yang kadang bikin minder. Tapi yang memang harus ditiru seperti melihat hidup ini selalu menyenangkan, dan menghadapi semua masalah tanpa beban. Jalanin aja, yah.. memang harus gitu kan ?


M, salah satu cikal bakal team Account Management Surabaya juga. Ma kasih udah bantu setup team ini bareng2 Om. Pesan saya cuma satu, jangan gampang panik yah, Sis. Karena 80% persen dari keberhasilan itu yah bersikap tenang, percaya aja kalau semua masalah pasti ada jalan keluarnya. 


Wah… gue udah bisa buat novel dengan karakter-karakter ini.


Sekali lagi terima kasih untuk tiga tahun yang menyenangkan di Account Management. Mohon maaf untuk semua kesalahan yang tenta saja tidak sengaja saya lakukan. Percayalah kalau tidak ada yang personal, semua hanya tentang pekerjaan.


Keep fighting, jangan menyerah, tetap semangat.

Dan yang paling penting, keep in touch….



Cheers,

Indri

Wednesday, 2 June 2021

I Grew Up with FRIENDS

 Minggu lalu kayaknya kita dibikin heboh dengan nunggu-nunggu premiernya serial FRIENDS yang katanya bakal reunian di HBO Max. Sampai ada satu teman juga yang ngajak nobar pas premierenya. Dan mungkin bukan cuma gue yang ngalamin ini, tapi gue harus bilang kalau gue dewasa bersama serial ini.



I'll be there for you.... 

kira-kira begitu yah soundtrack serial ini yang dinyanyiin sama The Rembrandts. Dan mungkin ini satu-satunya lagu group musik ini yang gue tau. Tapi jujur, soundtrack ini yang nemenin gue ngejalanin tahun pertama gue kuliah di bandung, menemani dinginnya malam dan sepinya kamar kos karena kala itu pertama kalinya gue tinggal jauh dari keluarga. Setiap dengar lagu ini, entah kenapa, bawaannya bikin hati senang aja. Karena yang kebayang pasti si karakter-karakter serial ini yang menari-nari mengikuti irama lagu dengan payung warna-warni di depan kolam air mancur yang legend itu. Rasanya hati mendadak hangat membayangkan cerita pertemanan di dalam serial itu yang masih membekas di hati ini sampai sekarang. Dan gue berasa relate aja - kalau kata anak sekarang - dengan serial itu. 

Tinggal sendiri di Bandung, tapi gue sangat beruntung karena gue mendapatkan pertemanan yang luar biasa yang seperti bunyi lirik soundtrack serial itu " I'll be there for you" .  Pertama kali tinggal sendirian jadi ga berasa sendirian, karena punya teman-teman yang seperti sama-sama belajar untuk tinggal jauh dari keluarga juga. Pokoknya selain bareng kuliah, tiga kali waktu makan juga pasti kita sama-sama. Karena merasa senasib sepenanggungan jauh dari orang tua. Sampai satu sakit semua ikutan sakit yang sama juga... hahaha... Gue bahkan punya teman dekat yang terdiri dari enam orang juga saat itu. Meskipun dengan komposisi yang berbeda, yaitu dua cowok dan empat cewek. Dan diantara kami juga ada yang akhirnya menikah seperti Monica dan Chandler atau Rachel dan Ross. 

Dan serial FRIENDS itu bukan cuma berpengaruh pada pertemanan juga tapi pada fashion masa kuliah gue dulu. FYI dulu, semua cewek kayanya pengen kayak Rachel. Semua pergi ke salon dan minta dipotong rambut dengan potongan Shaggy seperti Rachel. Dan itu pertama kalinya juga gue punya potongan rambut yang agak ngikutin trend. Karena gue termasuk konservatif dan ga ikutan potongan rambut Demi Moore di film Ghost.. ahahaha.... tapi untuk si Rachel ini, gue merelakan rambut panjang gue dipotong tidak beraturan. Jadi bisa dibilang di masa itu, mungkin hampir semua cewek di kampus pergi ke salon lalu minta dipotong rambut ala Rachel. Kamu juga enggak?

Serial yang mulai tahun 1994 dan berakhir tahun 2004 ini memang fenomenal banget. Sampai banyak potongan-potongan dialog yang rasanya sangat familiar di telinga. Dan anehnya gue ga pernah sekalipun ngerasa bosan untuk berulang kali menonton serial ini. Kaya apa yang lucu yah tetap lucu aja meskipun sudah diulang empat sampai lima kali.

Fase kedua FRIENDS menemani perjalanan hidup gue adalah masa dimana gue baru menikah sekitar tahun 2001 dan harus kembali tinggal jauh dari keluarga. Lagi-lagi kesepian dan homesick. Dimana waktu itu, kita berdua juga belum punya penghasilan dan harus menghemat untuk biaya hidup yang cukup tinggi. Tiket bioskop juga sangat mahal tapi kita butuh hiburan.  Jadi waktu itu, kita berdua menghabiskan uang saku dengan membeli DVD Original Friends di salah satu toko musik di Piccadilly Circus dan mengoleksinya sampai Season Lima. Dan DVD itu yang berulang kali kita tonton di waktu pagi, siang dan malam. Karena masa itu, internet memang sudah ada tapi belum musim Youtube, Streaming online apalagi Netflix. Saking seringnya, sampai kita hafal mana episode yang ingin kita tonton ulang, mana yang kita lewati. Dan FRIENDS benar-benar membuat waktu berjalan begitu mudah meskipun jauh dari keluarga. 

Sepuluh tahun serial itu, memang menyisakan banyak kenangan. Rachel, Monica, Phoebe, Joey, Chandler dan Ross, tidak ada yang lebih favorit, karena semua karakter itu membuat kita jatuh cinta sama beratnya. Joey dengan signature line-nya "How're you doing?", Rachel dengan segala kenaifannya, Monica yang OCD, Chandler yang sarkas, Phoebe dengan "Smelly Cat" Song, dan Ross dengan ke-geek-annya sebagai seorang paleonthologist, memang menjadi kesatuan yang tidak bisa dipisah-pisahkan. Dan rasanya sedih banget ketika serial ini harus berakhir. Kita mungkin berharap serial ini muncul lagi.  Tapi, seperti yang dikatakan pada Friends Reunion itu kemarin, kalau akhir serial ini ditutup dengan happy ending dari setiap tokohnya, dan si penulis naskah membiarkan kita berimaginasi atas masa depan setiap tokohnya.

And, I love happy ending. 


Cheers, Dhidie


Wednesday, 19 May 2021

Mbak, kapan datang?

 Mbak, Selamat lebaran, maaf lahir batin yah. 

Kapan rencananya mau balik ke Jakarta?




Mungkin ini isi pesan teks terfavorit yang di hari-hari setelah lebaran. Kemudian, pesan terkirim. Kemudian kita deg2an nunggu jawabannya, semenit, dua menit, lima menit, ga kunjung ada jawaban juga. Akhirnya, ya udahlah singkirkan dulu aja hapenya, nanti juga dia balas. Tapi, masih penasaran, dipandangin lagi hapenya sambil sok cuek buka2 halaman instagram, akhirnya besoknya baru pesan dijawab. Yah, mungkin si mbak lagi sibuk silaturahmi, atau lagi quality time sama keluarganya. Atau mungkin si mbak, lagi mikir2 lagi mau balik kerja lagi atau ngurusin suami aja di kampung?

We'll never know,

Dua puluh tahun berumah tangga, udah ga terhitung berapa kali ganti mbak. Dan setiap kali bulan Ramadhan mulai deh ada rasa deg2an, kira2 dia balik lagi ga yah setelah lebaran? Harus gue naikin lagi ga yah gajinya biar dia balik lagi. and so on and so on. Kemudian detik2 dia pulang, biasanya gue udah mulai pasrah, kalau dulu pas masih kerja, ketakutannya benar2 luar biasa, tapi sekarang pas udah di rumah aja dan anak2 udah pada besar dan kebetulan semua aktivitas juga di rumah, kayanya mulai pasrah. " Ya udahlah kalau ga balik lagi juga ga apa2 tinggal cari lagi gantinya." Begitu. 

Asisten Rumah Tangga jaman sekarang memang ga bisa diharapkan seperti jaman orang tua kita, yang bisa bertahan bertahun-tahun di rumah yang sama. Kalau dapat yang muda, nanti ada waktunya dia menikah, kalau dapat yang janda, eh, dia nanti suatu saat ketemu jodohnya juga. Sebenarnya ga bedanya sama karyawan, jangan berharap punya team member yang akan bertahan di kantor yang sama, sebagaimana pun baiknya kita, mereka tetap punya kebutuhan yang kita gak pernah tahu, punya keluarga dan mungkin punya cita-cita yang yang kita ga pernah bisa bayangkan juga. Jadi, yah... take it easy aja. 

Kalau dulu, saking seringnya ganti mbak, setiap lebaran, selalu berusaha punya pemikiran, jangan berpikir dia akan balik lagi, kontraknya kan memang diperbaharui setahun sekali, jadi kalau dia ga mau perpanjang ya udah, apa daya kita sebagai employer. Mungkin waktunya merekrut karyawan baru. 

Setelah umur sekian ini, dan tentunya udah ga punya anak kecil, kecuali kucing2 kecil yang masih butuh perhatian.. ahahaha... gue agak mulai bijaksana menyikapi kepulangan si mbak. Apa sih sebenarnya yang ditakutkan ? Masak ? Yah, masak sebisanya aja, jangan masak sayur lodeh atau rendang, susah!! ahahaha... Masak ala western, Jepang atau Korea lebih gampang. Kalau mau makan agak enak yah, tinggal ambil handphone dan delivery aja. Cuma jangan sering2, latte factor soalnya.

Nyuci piring? Gue menikmati moment nyuci piring, kaya semua masalah hidup tuh ikut kecuci bersama busa-busa yang hanyut dibawa air ke dalam pipa drainase.. Sedap yah ? Terus apa lagi, nyapu? Ngepel? Nah ini agak per er sih, mungkin kalau punya uang gue pengen beli vacum robot itu, cuma so far, nyapu dan ngepel seminggu sekali juga udah cukup buat gue, asal jangan lepas sandal aja pas di rumah, berasa banget pasirnya. Nyapu halaman juga bisa satu minggu sekali, kuncinya jangan sering2 lihat ke halaman, soalnya gemeesssss, bawaannya pengen menggulung lengan baju aja ngambil sapu. 

Terus apalagi? Oh iya, nyuci baju, nah ini agak peer, tapi pernahkan kamu mendengar jasa laundry kiloan? hahahaha... Untuk baju2nya rumah biarkan mereka yang mengurusnya. Meskipun deket rumah belum ada yang menyediakan jasa pick up-nya, cuma lumayanlah menghemat energy gue banget. kalau yang kecil2 dan agak fragile, yah cuci sendiri aja yah, gampang kan?

Rumah berantakan? Pasti, tapi gue mencoba untuk memusatkan aktivitas rumah di beberapa spot aja, biar ga berantakan semua aja kelihatannya, beresinnya juga lebih gampang, karena kelihatan, kalau kamar anak2, yah suruh beresin sendiri ajalah, udah gede ini kan? Gitu deh...

Hikmahnya apa kalau mbak lagi ga ada? Gue jadi tau kalau ternyata tempat ngeringin piring udah karatan, lemari dapur berantakan dan kulkas belakang udah banyak bahan makanan yang expired. Terus kalau ternyata gue perlu lebih banyak sapu, kain pel dan pengki, perlu wajan baru dan gue perlu menyisihkan waktu untuk ngeberesin gudang. Jadi ambil hikmahnya aja yah...

Tapi, yah, sekali lagi gue bisa berpikir kaya gini, setelah sekian tahun menikah, setelah ga mesti hiruk pikuk ngantor lagi, setelah anak2 lumayan besar. yang penting peace in mind aja. Intinya namanya juga Asisten Rumah Tangga, yah kerjanya cuma bantu2lah bukan jadi ngurusin semuanya kaya yang punya rumah. 

Setuju Ga? udah ah, mau nyuci piring dulu..

Cheers, Dhidie...