Featured post

Saturday 13 April 2024

Curhat yuk.. Kehidupan setelah Lebaran

Sebenarnya, ini harusnya jadi postingan di Bulan Maret menjelang Ramadhan tapi yah... ternyata waktu gue gak selonggar itu.



Entah kenapa setiap menjelang Ramadhan gue tuh kaya ketakutan. Sebenarnya gue gak tahu apa yang harus ditakuti. Tapi yah kaya stress aja. Mari kita berusaha mencari tahu alasan gue selalu stress menjelang Ramadhan.

Sebenarnya mungkin ini hasil akumulasi bertahun-tahun gue hidup berkeluarga. Jadinya setiap menjelang Ramadhan selalu ada rasa tegang meskipun sekarang semua baik2 aja. Gue sampe curhat sama suami, kenapa yah gue selalu stress menjelang Ramadhan? Dan waktu itu kesimpulan pertama gue adalah gue takut asma gue kumat di tengah2 puasa sementara gue gak bisa langsung pakai inhaler. Di Ramadhan tahun lalu gue sempat kaya gitu sampai berkali2 dan suffer banget rasanya. Biasanya gue langsung di kamar aja sambil berharap waktu cepat berlalu dan buka puasa. Tahun ini juga sebenarnya gue sempat drop di sepuluh hari kedua. Gue tahu sih karena gue sok2an cuma makan sahur sepotong roti aja, dan gue banyak minum es2an, jadinya langsung ngedrop deh. Gue batuk, pilek, asma sampai hopeless, tapi Alhamdulillah Allah kasih gue gak puasa jadi gue bisa istirahat total dan minum obat, meskipun tetap harus bangun siapin sahur tapi minimal gue bisa recovery dulu. Dan selanjutnya gue mencoba untuk makan normal aja di sahur, makan nasi pokoknya seproper mungkin dan baru pas buka puasa gue kurangin makan.

Terus biasanya gue stress juga karena orderan kue. Mau gak mau gue harus bangun pagi banget, karena biasanya orang random mau pesen apa aja yang ada di menu gue. Cuma kali ini gue bikin paket khusus hampers lebaran dan yang gue bikin adalah kue2 yang gak perlu gue stress kerjain dari pagi banget, tapi bisa gue cicil kerjainnya. So, Alhamdulillah semua berjalan dengan baik

Masalah bangun sahur dan siapin buat anak2 juga biasanya gampang bikin gue stress. Cuma tahun ini Alhamdulillah gue cuma siapin buat si bungsu aja karena si sulung biasanya udah punya mau sendiri mau makan sahur apa, sementara suami simple banget cuma dibikinin roti dan gue yah makan seadanya aja yang penting bisa kuat sampai berbuka.

Terus biasanya gue kepikiran juga dengan bakal gak ada pembantu pas lebaran jadi gue harus ngelakuin semuanya sendiri. Cuma kan sejak Covid kemarin gue udah terbiasa gak ada pembantu. Jadi sebenarnya hal ini juga seharus sudah tidak jadi masalah lagi karena sudah sangat terbiasa dengan tanpa pembantu. So tahun ini hal ini bukan masalah lagi. 

Next, tentang mudik, kepikiran kucing gimana. Biasanya kita titipin ke petshop, tapi Alhamdulillah udah 2 tahun ini sejak pakai mbak yang pulang hari jadi ada yang bisa dimintain tolong buat kasih makan kucing dan nitipin rumah. Jadi ini juga bukan masalah sih. 

Sebenarnya kalau dipikir2 semuanya menjadi tidak masalah ketika gue full time di rumah. Rasanya gue jadi gak overthinking atas hal2 yang di luar kendali gue. Gue bisa in charge full atas rumah ini dan kehidupan gue... Ah.. sedappp

Jadi, seharusnya tidak ada kecemasan lagi. Cuma moment lebaran biasanya gue gunakan juga untuk instrospeksi apa yang sudah gue lakukan selama ini. Dan jadi titik awal apa yang akan gue lakukan selanjutnya. Jujurly teman2 gue sudah pada kerja lagi. Dan ada sih keinginan untuk balik ngantor, cuma... kok gue masih ngerasa belum puasa ngurusin rumah dan anak2. Gue masih gak ikhlas kalau harus keluar rumah berjam2 dan kehilangan lagi momen2 bersama anak2 yang gue udah jalanin selama 4 tahun terakhir ini.

Meskipun kadang iri sama yang bisa punya uang sendiri juga. Tapi gue inget yah cuma itu aja, yah mungkin bakal gak kesepian juga karena banyak orang di kantor seenggaknya gue punya temen makan siang. Tapi kalau cuma gitu aja, dibanding punya keleluasaan dan kebebasan mengatur waktu sendiri dan mempelajari banyak hal, kok yah masih gak rela buat menukarnya dengan gaji yang pasti setiap bulannya.

Gue masih punya mimpi buat nulis skenario, gue masih punya mimpi punya toko roti dan gue masih punya mimpi bisa jadi finansial planner yang mengisi acara2 di luar sana. Untuk waktu dekat ini, mungkin gue akan fokus ke baking lagi, keluarin produk setiap bulannya atau pakai tema, gue terusin tiktok review2 dan bikin itinerary, terus gue lanjut podcast dan gue mau nulis satu novel. Itu aja sih.. banyak yah.. ahahahaha...

Udah sih gitu aja, wish me luck yahhh...


Cheers, Dhidie

Wednesday 28 February 2024

What Happen After Four Years - My Life After I Quit (Part-8)

 Wow, ga nyangka nyampe juga di part 8 series my life after I quit ini. Memulai tahun 2024 dengan harapan dan kecemasan baru.

What's going on?



Di Bulan Februari ini tepat sudah gue empat tahun setelah gue ngantor terakhir di bulan Januari 2020. Mungkin gue akan mulai mengulang kembali mengingat apa saja yang sudah gue lakukan di empat tahun belakangan ini. 

Sebelumnya gue akan mencoba mengingat kembali alasan gue untuk berhenti sama sekali dari kehidupan korporasi. Tulisan ini adalah sebagai pengingat bagi diri gue sendiri, tanpa bermaksud mengeluh ataupun menyombongkan sesuatu, karena tidak ada yang perlu dikeluhkan maupun disombongkan juga kan? Bukan begitu bukan? Hahaha

Alasan gue berhenti adalah kembali ke tahun 2016, di perjalanan Haji gue. Doa yang selalu gue ulang2 adalah untuk dijauhkan dari dunia riba. Waktu itu sedikit demi sedikit doa gue terjawab bahwa gue memimpin deparmen baru yang tidak mengharuskan untuk menjual produk riba meskipun gue masih bekerja di dunia perbankan. Namun one case leads to another yang membuat gue seperti terus diingatkan akan doa gue, kenyataan bahwa gue diingatkan oleh Sang Pencipta akan doa gue yang tidak ada tindakan dari gue sendiri untuk mewujudkannya. Mungkin karena kondisi yang tidak memungkinkan juga waktu itu membuat gue harus terus bertahan. Dan ketika ada satu kesempatan gue bisa meninggalkan dunia itu, tentu saja harus segera gue ambil, gue tidak pernah berpikir apa yang akan gue lakukan selanjutnya, bagaimana nanti cara gue untuk bisa mencari rezeki lagi, bagaimana gue harus menyesuaikan gaya hidup gue dengan kondisi tanpa income sendiri dan mungkin harus meminta kembali ke suami bila ingin sesuatu yang mahal atau harus menabung dulu untuk mendapatkan sesuatu adalah kondisi yang gue abaikan untuk tetap bertahan dengan keputusan gue yang sudah bulat. Gue harus resign. 

Apa yang terpikirkan oleh gue untuk gue lakukan selanjutnya adalah membuat video youtube, gue waktu itu sedang suka2nya dengan video2 youtuber Korea Haegreendal yang sudah dua tahun ini tidak pernah membuat video. I miss her. Waktu dulu belum banyak yang membuat video Youtube seperti itu di Indonesia. Baru sekarang banyak bermunculan video sejenis. Yah, lupakanlah, waktu itu gue sempat membuat beberapa video namun karena prosesnya sunguh menyita waktu namun viewer dan subscriber gue tidak juga terlihat naiknya, akhirnya gue menjadi malas dan tidak melakukannya lagi. Meskipun, gue akhirnya memiliki skill baru yaitu mengedit video. 

Selain itu gue juga berpikir gue bisa menulis lagi dengan puas. Tapi ternyata menulis pun tidak bisa selalu gue lakukan karena butuh waktu dan tempat dipersilakan. Ternyata ide tidak bisa dipaksakan dan tidak bisa muncul begitu saja. Gue memang akhirnya memiliki hampir dua puluh buku antologi, menyelesaikan trilogi gue dan satu novel. Kesulitan yang terjadi adalah hal tersebut hanya bisa dilakukan sebagai hobi dan tidak bisa menjadi sumber mata pencaharian kecuali bila ada penerbit besar yang mau menerbitkan karya gue. Mimpi gue berikutnya adalah menjadi penulis skenario. Gue sampai mengikuti kursus menulis skenario dan gue suka, sekarang mimpi itu kembali menggebu2 dan gue tidak mengerti bagaimana mewujudkannya di umur gue yang semakin senja ini. Hahahaha..

Gue tahu sih tidak pernah ada kata terlambat, karena sekali kamu berpikir untuk tidak melakukan sesuatu karena merasa terlalu tua, hal yang baik tentu saja maka percayalah kamu akan menyesali keputusan itu lima tahun kemudian dan beradai-andai bahwa kamu seharusnya melakukan hal tersebut pada saat itu.

Gitu deh, apa yang menjadi teori gue sebelum resign dan apa kenyataan yang sebenarnya terjadi dalam empat tahun ini.


Tahun 2020

Gue masih tidak ikhlas untuk meninggalkan status korporasi gue. Dan ketika gue mulai menikmatinya datanglah masa pandemi. Kebingungan, ketakutan memupuskan semua harapan gue. Tapi akhirnya gue berusaha melakukan hal2 yang bermanfaat, ikut kursus menulis di Komunitas Salihara, ikut sertifikasi Financial Planner di UGM, Dan mulai masuk ke dapur lagi dan punya kecintaan baru terhadap dunia baking, dan dimulailah brand "Cheers Dhidie".

Tahun 2021

Harapannya setelah berlabel CFP gue bisa menghasilkan uang, tapi ternyata, tak segampang itu, Esmeralda. Tapi gue punya kegiatan baru buat sharing2 tentang finansial di IG yang rutin seminggu sekali gue lakukan sampai akhir tahun 2022. Dan gue enjoy, karena gue bisa tetap keep up dengan dunia finansial, gue bisa menulis materi untuk dibagikan dan terutama gue bisa keluar rumah seminggu sekali.. hahaha.... Gue semakin fokus dengan baking gue, karena kondisi pandemi belum juga membaik meskipun sudah ada vaksin covid. 

Tahun 2022

Tahun yang gue mulai dengan keoptimisan sampai akhirnya di tahun ini gue harus berduka karena Papa, motivator dan penyemangat gue harus pergi untuk selamanya. Setengah tahun gue seperti hanya melakukan apa yang harus gue lakukan. Gue disibukkan oleh banyak hal dan gue tidak punya keinginan untuk melanjutkan Cheers Dhidie. Sehingga akhirnya Cheers Dhidie seperti gue tinggalkan. Gue masih melakukan IG Live Finansial. Di tahun ini gue juga menemukan komunitas penulis antologi, sehingga ikut beberapa project. Gue menerbitkan juga satu novel gue yang akhirnya karena masih berduka gue tidak terlalu memasarkannya. Dan tidak ada motivasi untuk memasarkannya. Hal lain, gue pergi ke Jogja untuk main angklung di Hotel Tenterem, benar2 pengalaman yang upredictable sih.

Tahun 2023

Gue mulai dengan harapan baru, harapan bahwa gue bisa melakukan sesuatu yang baru. Berakhir dengan terciptanya podcast Rumpi Finansial yang sudah satu tahun gue lakukan dengan partner IG Live gue. Gue juga menemukan komunitas lain untuk menulis antologi yang gue lakukan nonstop selama beberapa bulan. Di tahun ini gue ikut manggung angklung di festival payung kesepuluh di Solo. Ini juga pengalaman yang menyenangkan, dan gue semakin intens di kepengurusan angklung. Oh yah, akhirnya skil mengedit video gue terpakai justru untuk mengedit video angklung ini. Ada aktivitas baru antar jemput bimbel yang bikin gue happy karena gue jadi punya "We Time" dengan si bungsu. Kegiatan baking belum sepenuhnya gue lakukan lagi, tapi gue mulai dengan baking setiap Jumat untuk beberapa snack box ke Mesjid dekat rumah.

Tahun 2024

Lagi2 dengan harapan baru, keinginan untuk punya coffee shop semakin besar. Sekarang gue masih menjalani apa yang harus gue jalani. Apa yang akan gue fokus adalah gue akan mulai buat konten tiktok tentang travelling, gue jadi affiliate di shopee, gue akan menerbitkan satu novel tahun ini, dan gue akan lebih aktif di baking. Mungkin itu aja sih, harapan gue di tahun 2024. Mumpung masih awal tahun, mudah2an semuanya bisa berjalan lancar tahun ini dan di tahun 2025 gue bisa menulis setidaknya satu dua achievement yang gue capai di tahun 2024 ini. Gue pengen juga lebih sehat dan keluarga gue juga hidup lebih sehat.

Bismillah.


Cheers, Dhidie




Wednesday 24 January 2024

Naik Whoosh ke Bandung

 Sebelumnya gue sempat bilang ke diri gue sendiri, gak mau ah naik Whoosh sebelum beroperasi setahun atau lebih, karena kok kaya gak percaya aja gitu. Dan ternyata...



Karena si anak SMA lagi liburan, akhirnya kita memutuskan untuk berkunjung ke rumah neneknya dong tentu aja. Di Bandung. Awalnya memang sudah kepikiran buat nyobain kereta cepat, tapi kok kaya masih was was aja gitu. Biasalah overthinking dengan segudang pertanyaan "What If". Akhirnya gue mikir, ya  sudahlah kita naik travel aja yang selain tempatnya dekat dari rumah, terus nyampenya juga berdasarkan pengalaman sudah pasti lebih cepat dibandingkan jadwalnya. Tapi pas terlontar ide naik whoosh dan disambut gembira oleh si anak SMA dan dapat restu juga dari Papinya maka here we go naik Whooshlah kita.

Berangkatnya sempat kepending karena ada orderan baking, but akhirnya gue men-donlot juga aplikasi KCIC untuk order tiketnya. Agak ribet sih kalau menurut gue karena sempat beberapa kali fail, dan keluar warningnya dalam Bahasa Cina. Sementara bahasa Cina gue kan cuma sebatas Wo Ai Ni dan Ni Hau aja kan? Hahaha... Kemudian setelah sukses mendonlot si aplikasi, gue juga berhasil memesan tiket yang ternyata simple banget, cuma karena musim libur jadinya kursi-kursi strategis dan jam-jam strategis sudah full booked. Akhirnya dengan kesabaran gue berhasil dapat juga posisi yang gue inginkan.

Semalam sebelum berangkat, kaya semakin tegang.. hahaha.. berasa mau naik roller coaster, kaya beres2 rumah dulu yang penting rapi pas ditinggaling. Terus besoknya gue spare 2 jam sebelum jam keberangkatan, karena ternyata kita bisa langsung ke stasiun Halim lewat toll JORR jadi cuma makan waktu sekitar 30 menit. Gue berangkat pakai taksi online hampir 100rb argonya. Dan ternyata stasiun si KCIC ini juga gak terlalu susah dicari. Benar-benar pas keluar tol Halim gak jauh gitu. Gue lihat sudah ada yang banyak ngantri, tapi ternyata itu adalah antrian Roti 'O hahahaa..

Stasiun KCIC di Halim

Kaya mau boarding pesawat

Di tempat boarding


Langsung bergerak ke mesin untuk cetak tiket, ternyata sebenarnya kalau gak dicetak tiketnya bisa aja sih, cuma kaya seru aja pengen nyobain mesinnya. Dan jadi punya fisik tiket buat ditempel di buku jurnal, yah kan? Terus mari kita juga mengantri Roti 'O untuk oleh2 khas Jakarta, hahaa.. padahal di Bandung juga banyak, tapi kita gak bawa apa2 saking mendadak banget rencana liburannya. Beli kopi sama roti, dan naiklah kita ke atas untuk ke tempat boarding, cieee boarding...

Stasiunnya sih memang bagus, rapi, bersih dan luas, tapi mungkin karena baru ada satu tujuan kereta yah, gak tahu kalau nanti tujuannya sudah bertambah. Kita duduk dulu karena ada yang lapar pengen makan roti dulu. Baru deh masuk ke tempat keberangkatan. Berasa di bandara sih suasananya, dan gue kok mendadak excited. Jadi mereka bakal manggil setiap keberangkatan untuk siap-siap masuk ke dalam stasiun. Ada papan boardingnya juga sih, jadi kita bisa lihat juga. Pas dipanggil, kita langsung berbaris rapi dan masuk satu dengan masukin si tiket yang tadi sudah kita cetak kaya masuk ke undergroundnya London gitu deh...

Just the Two Of Us

Max Speed

Different point of view

Dan... kita langsung menuju platformnya. Kalau menurut gue lebih baik travelling light sih, karena yah gak ada kuli panggulnya. Atau gue gak lihat yah? Dan kalau turun di Padalarang dan nyambung feeder juga kan kita harus pindah2 gitu jadi yah better bawa barang seminimal mungkin, apalagi kalau yang niat naik MRT lanjut LRT ke Halim. 

Dan untungnya gerbong kita adalah gerbong terakhir, jadinya di ujung gitu jadi kita bisa dapat foto2 bagus di depan keretanya. Dan yang motoin juga petugasnya yang memang kayanya sudah biasa banget dimintain tolong sama ibu2 rempong ini.

Katanya ambil kursi sebelah kiri karena pemandangannya lebih bagus, dan gue memang ambil yang sebelah kiri sih, sekali lagi untungnya. Dan gue baru tahu pas baca tips orang2. Dan berangkatlah kita menuju Bandung, gue masih asik ngeliatin dan bikin video dan foto2. Tiba-tiba kaya sudah lima belas menit aja. Dan keretanya masuk ke kecepatan maksimal yaitu 350 km/jam. Wow berasa terbang.. gak deng, lebay. Tapi excited banget, dan lima belas menit kemudian sampailah kita di Padalarang. Kok masih pengen di kereta yah, gak mau turun. Cuma yah harus turun karena kalau turun di Gede Bage kejauhan.

Dan turunlah kita di stasiun Padalarang. Agak ngantri yah, Bun keluarnya, Kalau gue perhatiin sih yang lama itu yang scan barcode di hapenya. Kalau yang pake tiket fisik sih lancar2 aja. Langung turun lift menuju platform kereta feedernya. Dan ternyata sudah penuh, dan memang kursinya terbatas banget sih, cuma kemudian gue dikasih tahu kalau harus jalan aja ke gerbong paling depan karena pasti kosong. Yah.. next timelah kalau naik Whoosh lagi. Aamiin...

Karena gak dapat kursi yah sudah berdirilah kita lima belas menit, ga apa2 juga sih, anggap aja naik MRT kan? Dan sampai juga akhirnya kita di Stasiun Bandung, Alhamdulillah. Selalu senang kalau sampai di Bandung karena mau ketemu kesayangan...

Terpaksa berdiri di Kereta Feeder menuju Stasiun Bandung


Jadi, gimana pengalamannya? Recommend ga? Yah rekomen sih buat yang pengen nyoba naik kereta cepat karena jujurly keretanya jauh lebih bagus dibanding KTX di Korea atau Eurostar, yah mungkin karena baru aja ya. Cuma yah perjalanannya terlalu cepat, tapi mungkin memang berguna banget buat orang yang memang butuh mobilitas yang tinggi, cuma buat gue, kalau naik kereta minimal tiga jam deh, baru puas... hahaha.. 

Dan buat gue yang tinggal di selatan untuk ke stasiun yang di daerah Timur kok agak effort yah, kecuali nanti ada shuttle atau apa gitu yang bisa langsung antar ke stasiun jadi gak mahal ongkosnya. Gitu deh...

Bangga deh Indonesia sudah punya kereta cepat sekarang

Whoosh whoosh whoosh Yes...


Cheers,

Dhidie